Rabu, 11 November 2009

Tugas-Jabatan Penatua dalam Gereja Batak

Tugas-Jabatan Penatua dalam Gereja Batak
Jabatan (Tohonan) dalam adat batak bukanlah untuk pribadi melainkan umum. karena jabatan dalam adat ini dipilih oleh masyarakat kepada seseorang sebagai satu kesatuan bangsa batak. Diperlukannya jabatan dalam adat ini ialah sebagai pusat yang dipercayakan untuk memahami adat istiadat misalkan jika ada upacara-upacara khusus dalam adat tersebut. Beberapa orang yang dianggap sebagai pejabat dalam adat batak, yaitu, Kepala suku, yang tertinggi oleh sebab itu segala permintaannya harus dituruti oleh rakyatnya atau sukunya. Kepala suku dianggap sebagai raja, imam dll.
Masyarakat batak terkenal dengan penyembah berhala. Dalam penyembahan tersebut harus dilakukan upacara dan dalam upacara itu ada seseorang yang menjadi perantara dalam upacara tersebut. Tugas seseorang itu ialah agar apa yang dipersembahkan oleh masyarakat kepada dewa atau arwah nenek moyang mereka dapat diterima. Seseorang itu dikenal dengan sebutan Datu- imam. Tugas-tugas datu tersebutpun memanggil roh-roh atau menghubungkan orang-orang yang masih hidup dengan orang yang telah mati.
Jabatan-jabatan kesukuan tersebut masih dipegang sampai sekarang oleh suku tersebut. Karena masyarakat ini adalah salah satu suku yang terkenal masih memegang adat istiadat dengan kuat. Hingga pada masuknya agama Kristen dalam suku ini melalui pedagang-pedagang dari portugis.
Semakin banyak misionaris-misionaris yang datang ke tanah tersebut untuk menyebarkan injil atau ajaran agama Kristen. Dan misionaris tersebut lebih banyak berasal dari Belanda dan Jerman. Misionaris yang terkenal bagi orang batak ialah Nommensen, karena beliaulah suku tersebut mengenal gereja.
Nommensen memerlukan seseorang untuk dapat membantunya dalam misinya di tanah batak. Seseorang yang dipilihnya itulah yang akan diteguhkan menjadi penatua (Sintua). Tugas-tugas seorang penatua ialah membangun atau mendirikan jemaat dalam gereja. Nommensen, mulai memberikan tugas kepada penatua tersebut untuk mengamati tingkah-laku jemaat agar tetap berjalan sesuai dengan ajaran Kristen.
Penatua menurut gereja batak adalah yang menerima jabatan penatua dari HKBP melalui pendeta resort sesuai dengan agenda HKBP. Pada umumnya tugas seorang penatua adalah melayani jemaat secara pastoral. Memelihara, menjaga, mendoakan jemaat yang dalam keadaan sesat, sakit atau difungsikan sebagai seorang gembala. Namun, penatua bukanlah suatu jabatan dalam gereja batak. Penatua ialah seseorang yang terpilih untuk melayani dalam gereja tersebut. Dan penatua adalah gelar yang akan terus melekat kepada yang terpilih tersebut sampai tutup usia.
Syarat menjadi penatua dalam gereja HKBP ialah warga jemaat yang memilih seorang penatua untuk menjadi penatua dalam jemaat, mengikuti ibadah minggu dan perjamuan kudus atau aktif dalam pelayanan, tidak terkena siasat gereja (RPP), minimal berumur 25 tahun, sehat rohani dan jasmani. Penatua harus mempunyai pendidikan sedikit-dikitnya SLTP (sekolah lanjut tingkat pertama) dan dipilih oleh warga jemaat dari mereka yang telah ditetapkan dalam rapat pelayanan tahbisan.
Tugas yang diberikan kepada penatua yang telah ditahbiskan dalam gereja HKBP adalah dapat melakukan baptisan darurat. Baptisan darurat ialah jika ada warga jemaat yang memiliki bayi dalam keadaan sekarat namun belum dibaptis. Tugas penatua juga menyusun data-data warg jemaatnya dilingkungan masing-masing. Penatua harus mengikuti setiap sermon dan rapat penatua, dalam sermon inilah pembagian tugas pelayanan ibadah minggu. Penatua juga dapat menyampaikan berkat namun tanpa penumpangan tangan.
Dalam perjanjian baru, adanya jabatan penatua tidak begitu jelas karena setiap jabatan yang ada pada masa itu para rasullah yang menjabat semua jabatan dalam jemaat. Namun, dengan banyaknya tugas para rasul tersebut yang memungkinkan mereka memerlukan bantuan untuk mengurusi meja perjamuan. Dari situlah penatua mulai hadir, dengan tugas-tugas yang kemudian agak serupa dengan para rasul.
Menjadi pejabat gereja ialah terpanggil untuk melayani. Dan dalam jemaat atau gereja tersebut tidak ada yang lebih tinggi atau mejadi tuan diantara yang lainnya. Semua yang menjadi pejabat gereja adalah sama seorang pelayan dan hamba seperti Kristus. Begitu juga dengan penatua. Dalam gereja HKBP, penatua adalah bagian penting dalam gereja. Penatua mempunyai tugas-jabatan yang sama seperti pendeta, yaitu berkhotbah, memimpin ibadah jika pendeta berhalangan hadir. Namun, penatua tidak dapat memimpin sakramen baptisan dan perjamuan kudus, mentahbiskan dan meneguhkan perkawinan dll.

Daftar Pustaka
Abineno, Ch, L, J. Sekitar Theologia Praktika I. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1984.
Hendriks, N, A. Pengatur Rumah Allah. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1980.
HKBP, Aturan dohot Paraturan Huria Kristen Batak Protestan (tanpa tempat, 2002).
Lumbantobing, A. Makna Wibawa Jabatan dalam Gereja Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1992.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar