Rabu, 11 November 2009

Teologi Feminis dalam PB 2

Teologi Feminis dalam PB 2
Siapa Elisabeth Schüssler Fiorenza?
Elisabeth Schüssler Fiorenza lahir di Jerman dan tinggal di sebuha lingkungan Katolik di Fraconia. Beberapa tahun kemudian ia menjalani pendidikan di sebuah Sekolah Katolik Amerika. Ketika masih anak-anak Elisabeth Schüssler Fiorenza sangat dekat dengan lingkungan Katolik Roma, dimana ia diperkenalkan dengan berbagai macam pengajaran dan tradisi iman Katolik. Ketika menginjak masa remaja, ia mulai gemar membaca dan menikmati berbagai macam cerita santo-santa. Pada tahun 1963 ia menjadi wanita pertama yang memperoleh gelar Teologi di Universitas Würzburg Jerman. Tugas akhirnya adalah The ministries of women in the church diselesaikan pada tahun 1962. Ia kemudian meneruskan pendidikan Lisensiat dalam bidang Pastoral dan Teologi pada tahun 1963. Pada tahun 1970 ia menyelesaikan program doktoratnya dalam bidang Perjanjian Baru, yaitu membahas tentang Imamat menurut Kitab Wahyu. Karya tulisnya telah dibukukan dan diterbitkan dalam bahasa Jerman dan sudah diterjemahkan juga dalam berbagai bahasa lain. Ia juga banyak menulis tentang Kitab Wahyu dan juga menulis beberapa artikel mengenai Yudaisme dan Jemaat Kristen Perdana. Beliau memperoleh gelar Profesor bidang Perjanjian Baru dan Teologi di universitas Notre Dame pada tahun 1980 dan Profesor dalam bidang Perjanjian Baru di Sekolah Episcopal Divinity di Cambridge, Massachussets pada tahun 1987. Dalam perjalanan waktu Elisabeth Schüssler Fiorenza telah memperoleh berbagai macam penghargaan, beasiswa, doktor kehormatan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Ia menjadi ketua Society of Biblical Literature pada tahun 1983, sebagai konsultan pembicara gerakan perempuan Gereja dalam Catholic Theological Studies Association, dan menjadi anggota pembicara mengenai Perempuan dalam Jemaat Kristen Perdana di Catholic Biblical Association. Fiorenza menikah dengan Francis Schüssler Fiorenza, seorang profesor di Harvard Divinity School, dan mempunyai seorang putri yaitu Christina. Selama berkarir, Fiorenza banyak memberikan kontribusi pada telogi feminis. Ia telah menulis berbagai macam buku dan karangan. Beberapa publikasi yang pernah ia buat antara lain: In memory of her: A feminist theological reconstruction of early Christian origins (1983), The Book of Revelation: Judgment and justice (1976), Bread not stone: The challenge of feminist biblical interpretation (1984) and Discipleship of equals: A critical feminist ecclesiology of liberation (1993). Berbagai macam buku dan karangan yang pernah ia tulis biasanya memiliki topik seputar jemaat kristen prdana, kaum perempuan dan pelayanan Gereja, spiritualitas feminis, pelayanan kaum feminis, patriarki kaum laki-laki, wanita dan gereja, dll[1].
Elisabeth Schüssler Fiorenza termasuk dalam golongan teolog feminis aliran teologi feminis reformis. Kelompok aliran ini juga mengakui adanya dominasi laki-laki dalam tradisi kristen, tetapi mereka mempunyai harapan akan terjadinya transformasi dalam tubuh gereja. Tradisi kristen mempunyai unsur-unsur kuat untuk pembebasan, jadi kesempatan transformasi masih terbuka. Maka mereka memilih tetap dalam gereja untuk melakukan tranformasi. Para teolog feminis Katolik dalam kelompok ini bekerja dengan metode pembebasan. Mereka mencari unsur-unsur patriarki yang dapat dibongkar kemudian dirubah menjadi unsur-unsur keadilan dan kesetaraan gender.
Kaum Feminis dan Kitab Suci
Tulisan ini hendak mengulas mengenai pandangan salah seorang tokoh feminis yaitu Elisabeth Schüssler Fiorenza terutama berkaitan dengan salah satu pandangannya tentang Kitab Suci. Maka fokus tulisan ini lebih mau menunjukkan kaitan antara pandangan teologi feminis berkaitan dengan heremeneutika Kitab Suci. Hal ini hanyalah sebagian kecil dari pandangan teologi Elisabeth Schüssler Fiorenza, karena kita tahu bahwa salah seorang tokoh feminis ini memiliki berbagai macam sisi tilik tentang feminis. Elisabeth Schüssler Fiorenza mengatakan bahwa pusat hermeneutik adalah Gereja Perempuan. Ini bukan berarti perempuan memisahkan diri dari gereja. Istilah Yunani Ekklesia berarti pertemuan umum orang-orang merdeka untuk mengambil keputusan tentang kesejahteraan sosial mereka dan anak-anaknya. Jadi gereja perempuan adalah gerakan perempuan dalam Gereja, merupakan gerakan pembebasan perempuan yang muaranya adalah full humanity. Hal inilah yang dirasa menjadi tujuan gerakan feminis yaitu pembebasan. Hal ini juga terungkap dalam perhatinnya mengenai interpretasi Kitab Suci menurut kaum perempuan, yaitu supaya kaum perempuan juga mengalami pembebasan secara khusus dari pemaknaan akan Kitab Suci yang cenderung menggunakan legitimsi Kitab Suci untuk menindas kaum perempuan.
Analisis budaya patriarkat diterapkan pula dalam membaca Kitab Suci karena patriarkat sebagai piramida kaum laki-laki mengokohkan penindasan kaum perempuan yang berlanjut dengan penindasan berbasis kelas, ras, negara atau agama dimana kaum perempuan juga menjadi bagian dari penindasan ini. Elisabeth Schüssler Fiorenza meyakini bahwa kendati Kitab Suci memiliki latar belakang patriarkat di zaman purba namun ia memiliki unsur-unsur yang secara potensial berciri liberatif, tidak saja bagi kaum perempuan tetapi juga untuk setiap orang yang mengalami penindasan di dalam sistem patriarkat dewasa ini. Konsekuensinya, beberapa pernyataan dalam Kitab Suci mengenai perempuan haruslah secara hati-hati dianalisa dan dimaknai dengan kesadaran adanya bias gender. Kitab suci sendiri sebenarnya bersifat dualisme, seperti yang ditekankan dalam studi biblis perempuan. Di satu sisi sebuah Kitab Suci ditulis dalam bahasa androgini, yang berakar pada budaya patriarki dan secara langsung di dalam Kitab Suci ditekankan mengenai nilai-nilai patriarkal. Di sisi lain, kItab Suci memberi inspirasi dan mendorong kaum perempuan dan orang lain dalam perjuangannya melawan budaya patriarkal[2]. Maka Elisabeth Schüssler Fiorenza menawarkan metode pembacaan dan penafsiran Kitab Suci dari sudut pandang feminis. Metode ini dikenal dengan istilah Hermeneutika Feminis.
Model Hermeneutika Feminis atas Kitab Suci
Elisabeth Schüssler Fiorenza menawarkan cara menafsirkan Kitab Suci sehingga mampu dipahami oleh kaum feminis terutama dalam konteks yang liberal dan tidak bias gender. Metode yang digunakan adalah hermeneutika feminis. Hermeneutika feminis mengacu pada teori, seni dan ketrampilan serta praktik penafsiran Kitab Suci dan teks-teks kuno Kitab Suci demi kepentingan kaum perempuan. Hermenutika feminis tidak terlepas dari model kecurigaan dan kenangan yang menjadi titik tolaknya. Hermeneutika kecurigaan mengajak untuk membangkitkan kesadaran yang menuntut seseorang untuk turut mempertimbangkan pengaruh dari berbagai peran dan pola sikap menyangkut jenis kelamin yang ditentukan secara kultural dalam Kitab Suci. Sedangkan hermenutika kenangan hendak membangkitkan kembali kenangan penderitaan dan ketidakadilan yang telah ditimbulkan oleh kaum patriarkat[3]. Elisabeth Schüssler Fiorenza memberikan kunci dalam model penafsian Kitab Suci sebagai berikut:
1. Suspicion
Dengan menumbuhkan sikap kecurigaan dan tidak secara langsung atau mutlak menerima otoritas Kitab Suci, dengan kata lain kaum perempuan diharapkan dapat membaca Kitab Suci secara kristis. Karena apa? Perlu diingat beberapa hal yang telah disebutkan diatas berkaitan dengan proses penulisan Kitab Suci adalah bahwa Kitab Suci ditulis oleh kaum laki-laki dan diwarnai oleh budaya laki-laki yang sangat mendominasi.
2. Evaluation
Tahap ini mau memberikan evaluasi kristis terhadap otoritas Kitab Suci. Kaum perempuan memiliki otoritas untuk memilih dan menolak suatu teks atau perikop Kitab Suci tertentu yang dirasa tidak sesuai dengan jiwa feminis. Teks atau perikop Kitab Suci terlebih dahulu dievaluasi dan diuji menurut isi pembebasan dalam konteks feminis dan fungsinya dalam konteks historis masa kini. Penafsiran suatu perikop Kitab Suci harus lahir dari suatu penelitian yang sistematis akan pengalaman penindasan dan pembebasan perempuan. Maka teks harus dibebaskan dari kungkungan tradisi atau budaya tertentu terlebih budaya patriarki.
3. Proclamation
Tahap ini mau menafsirkan Kitab Suci melalui pemberitaan, artinya dalam tafsir feminis dikembangkan pemberitaan bahwa teks dalam Kitab Suci yang menunjukkan penindasan dan diskriminasi manusia bukanlah Sabda Allah. Maka kaum perempuan harus senantiasa menyadari bahwa dirinya memiliki otoritas memilih perikop Kitab Suci yang tidak menggambarkan penindasan. Kaum perempuan perlu bersikap kritis dalam membaca Kitab Suci sehingga dapat membedakan mana yang menjadi kabar baik dan mana kabar buruk bagi manusia tertindas.
4. Reconstruction
Rekonstruksi yang dimaksudkan adalah membangun kembali rekaman ingatan dan sejarah. Hal ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci adalah bahasa androsentris sebagai bahasa umum, sehingga perempuan tidak masuk di dalamnya. Untuk menyadari bahwa perempuan juga berada dalam perikop Kitab Suci maka perlu dibaca perikop perempuan sebagai indikator dan petunjuk bahwa perempuan ada di pusat kehidupan Kitab Suci.
5. Imagination
Penafsiran melalui perayaan dan ibadat ritual, untuk melengkapi penafsiran melalui pengenangan kembali dan rekonstruksi sejarah. Mengangkat kembali indikator adanya kehidupan feminis dalam Kitab Suci, dapat menolong imajinasi historis, gubahan yang artistik dan perayaan liturgis. Maka ceritera dalam Kitab Suci dapat dituturkan ulang dari perspektif feminis[4].
Tujuan Model Penafsiran Kritis
Menurut Elisabeth Schüssler Fiorenza, Kitab Suci perlu dimaknai sebagai kebenaran yang sungguh serta tanpa salah yaitu segala sesuatu yang dikehendaki Allah demi keselamatan manusia. Keselamatan disini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai keselamatan jiwa saja yaitu pembebasan dari dosa, namun keselamatan juga perlu dimengerti sebagai suatu situasi pembebasan dari tindakan sosial politik. Kadangkala kaum wanita mendapat perlakuan tidak adil dan banyak mengalami penderitaan karena adanya eksploitasi dan struktur patrialkal yang membeda-bedakan manusia menurut jenis kelaminnya. Maka peran Kitab Suci disini jangan sampai menjadi pelembagaan atau legitimasi untuk bertindak tidak adil dan menekan kaum wanita[5]. Oleh karena itu perlulah penafsiran kritis atas Kitab Suci.
Penafsiran kristis atas Kitab Suci ini bukan hanya akan memberikan pencerahan bagi kaum perempuan dalam membaca dan menggunakan Kitab Suci namun juga akan menunjukkan bagaimana pembacaan kaum perempuan terhadap Kitab Suci sungguh dibatasi oleh situasi sosioreligius dan budaya mereka. Hal ini dilakukan demi mencegah kemungkinan-kemungkinan kooptasi dari budaya patriarki. Oleh karena itu interpretasi biblis dari kaum feminis hendaknya ditempatkan dalam pusat perhatian pada perjuangan kaum perempuan untuk mentransformasi struktur-struktur patriarkal baik dalam teks Kitab Suci maupun konteksnya, daripada memfokuskan pada masalah teks Kitab Suci yang berbada androsentris. Proses penafsiran kristis ini diharapkan membantu kaum perempuan semakin dapat merasakan adanya kebebasan dari struktur patriarkal yang cenderung mengeksploitasi, membuat kaum perempuan terpinggir dan mengalami ketidakadilan[6].

Daftar Acuan
-, Sejarah Hidup Elisabeth Schüssler Fiorenza di www.ars-hetooric.net/Queen/ Editor/Schussler.html, diunduh pada 25 Oktober 2007.
Clifford, Anne M., Memperkenalkan Teologi Feminis, Ledalero, Maumere, 2002.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler, Searching the Sriptures: vol. 01: A Feminist Introduction, Crossroad, New York, 1993.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Struggle is A Name for Hope: A Critical Feminist Interpretation for Liberation”, Pasifica, Pasific, 1997.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Demi Keselamatan Kita: Interpretasi Alkitab, Suatu Tugas Teologis” dalam Hommes, Tjaard. G-E. Gerrit Singgih (Ed), Teologi dan Praksis Pastoral : Antologi Teologi Pastoral, Kanisius, Yogyakarta, 1992.
________________________________________
[1] Disarikan dari sejarah hidup Elisabeth Schüssler Fiorenza di www.ars-hetooric.net/Queen/ Editor/Schussler.html, diunduh pada 25 Oktober 2007.
[2] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, Searching the Sriptures: vol. 01: A Feminist Introduction, Crossroad, New York, 1993, 5.
[3] Clifford, Anne M., Memperkenalkan Teologi Feminis, Ledalero, Maumere, 2002, 93-94.
[4] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Struggle is A Name for Hope: A Critical Feminist Interpretation for Liberation”, Pasifica, Pasific, 1997, 236.
[5] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Demi Keselamatan Kita: Interpretasi Alkitab, Suatu Tugas Teologis” dalam Hommes, Tjaard. G-E. Gerrit Singgih (Ed), Teologi dan Praksis Pastoral : Antologi Teologi Pastoral, Kanisius, Yogyakarta, 1992, 278-279.
[6] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, Searching the Sriptures: vol. 01: A Feminist Introduction, 21.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar