Rabu, 11 November 2009

KHOTBAH 1 TESALONIKA 2 :1-2

“HAMBA TUHAN YANG DIBERKATI”
KHOTBAH 1 TESALONIKA 2 :1-2
Pelayanan Paulus di Tesalonika

Saudara-saudara, pada masa itu jemaat Tesalonika bukan dikenal sebagai jemaat yang besar tetapi menjadi teladan bagi seluruh orang percaya di wilayah Makedonia dan Akaya. Jemaat di Tesalonika dikenal dengan kehidupan rohani dari jemaatnya. Orang-orang di Tesalonika tidak memamerkan harta kekayaan yang mereka mililiki tetapi mereka justru memerkan kehidupan rohani. Mereka tidak hanya mengimani saja tetapi dalam berperilaku sehari-hari yang sesuai dengan kehendak Allah. Mereka merasa roh kudus telah dicurahkan kepada diri mereka oleh Allah. Maka sudah sewajarnya jika mereka dijadikan bangsa pilihan Allah dan berharga dihadapan Allah. Paulus yang mendengar tentang jemaat di Tesalonika dan segera datang ke Tesalonika.
Dalam nats ini, ingin disampaikan mengenai bagaimana kita sebagai umat Allah di dunia ini untuk menyebarkan tentang kerajaan Allah kepada sesama. Banyak memang tantangan yang harus kita hadapi sebagai pengikut Kristus di dunia ini. Adanya pembakaran gereja dimana-mana bukan menjadi penghambat bagi kita untuk menjadi takut dan berhenti dalam usaha mewartakan kerajaan Allah di dunia. Hal ini sama dengan Paulus datang untuk menyebarkan tentang kerajaan Allah kepada jemaat di Tesalonika. Pelayanan Paulus pada saat itu bukannya tanpa hambatan. Pada masa itu juga sudah ada hambatan-hambatan bagi hamba Allah yang ingin mewartakan kabar tentang kerajaan Allah. Paulus dapat dikatakan tidak hanya mendapatkan “manisnya” saja saat melakuakan perlayanan di Tesalonika tetapi dia mendapatkan “pahitnya” juga.
Saudara-saudara yang terkasih dalam nama Yesus Kristus, kita semua adalah pengikut-pengikut Allah yang wajib untuk memberitakan kerajaan Allah di dunia ini. Allah mengharapkan kita tidak hanya sebagai pendengar tetapi menjadi pelaku firman. Dalam menyebarkan kerajaan Allah, kita tidak bisa sesuka hati kita tetapi harus sesuai dengan kebenaran dalam firman Tuhan. Kita tidak sama dengan imam-imam (pada jaman dulu) atau dukun. Hamba Allah tidak menyebarkan berita kebohongan dan dusta.
Saudara-saudara, dalam ayat 4 telah dikatakan bahwa kita telah dianggap Allah layak untuk menyebarkan injil. Kita telah dicurahkan roh kudus untuk dapat mewartakan kebenaran akan kerajaan Allah. Pelayanan kita di dunia ini untuk kemuliaan Tuhan dan tidak ada pamrih. Pelayanan kita kepada Allah tentu berbeda dengan pelayanan kita terhadap bos di kantor. Di kantor, kita bekerja sebaik mungkin untuk mendapatkan pujian, reward, atau kenaikan pangkat. Biasanya yang masih bekerja sebagai karyawan datang tidak terlambat dan selalu berpakaian rapih, dan selalu patuh terhadap perintah atasan. Berbeda dengan manajer, manajer biasanya berusaha tampil baik di depan klien atau rekan kerja samanya agar tetap menjaga hubungan. Nah, yang paling di sorot biasanya sales. Seorang sales pasti akan menawarkan produk dan pastinya yang disebutkan hanya keunggulannya saja dan biasanya keunggulan tersebut belum tentu benar. Saudara-saudara, Allah tidak pernah menjanjikan atau memberikan kekayaan atau jabatan kepada kita di dunia ini. Allah tidak mau ada kepura-puraan dalam pelayanan atau lebih sederhana kita mencari perhatian di depan majelis atau jemaat lainnya. Allah tidak dapat menjajikan kenikmatan duniawi. Kita lihat Lukas 20 : 46-47. Dari nats tersebut orang-orang yang mencari pujian dari orang lain dapat disamakan juga dengan ahli-ahli taurat. Ahli-ahli taurat mencari penghormatan dari jemaat dalam rumah ibadat dengan duduk paling depan saat ibadah dan berdoa yang lama dan panjang agar dilihat orang. Yesus mengatakan bahwa orang-orang seperti itu yang akan mendapat hukuman lebih berat.
Saudara-saudara yang di kasihi dalam nama Yesus Kristus. Dalam ayat 8 kalau kita baca. Dalam ayat ini Paulus ingin mengajarkan bahwa dalam pelayanan kita, kita melakukannya dengan kasih dan rela. Kita yang hidup di dunia ini tentu pernah merasakan hangatnya kasih seorang ibu terhadap kita. Kita pernah mendengar lagu “Kasih Ibu” (dinyanyikan). Seorang ibu memberikan kasihnya kepada anaknya dan tidak berharap menerima apapun dari anak. Apapu yang diminta sang anak pasti seorang ibu hanya ingin memberikan segala yang dibutuhkan oleh anaknya.
Di dalam diri kita telah dicurahkan darah dari anak Allah yang telah rela mati di salibkan Api kasih sayang telah menyala-nyala dalam diri kita. Kita telah diberkati Tuhan dan dengan sungguh-sungguh rela membagi hidup kita dengan sesame manusia yang belum mengenal juruselamat dunia.
Jadi, firman Tuhan ini ingin mengatakan, pertama, kita sebagai umat Allah yang ada di dunia ini harus bisa menjadi saksi akan kerajaan Allah. Kedua, dalam usaha kita untuk menyebarkan kebenaran kerajaan Allah di dunia ini tentu banyak hambatan yang bertentangan dengan tujuan kita. Kita tidak menjadi takut atau lemah terhadap hambatan tersebut. Kita harus tetap yakin karena Allah menyertai kita selalu dalam setiap kehidupan kita. Ketiga, dalam menyebarkan kebenaran tersebut, kita tidak dibenarkan untuk bersaksi dusta atas firman Tuhan. Dan yang terakhir, kita menyebarkan kerajaan Allah tidak hanya melalui perkataan saja tetapi melalui perbuatan juga. Perbuatan kasih yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita dapat melihat pelayanan Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Paulus ingin ia menjadi model atau teladan bagi jemaat Tesalonika. Paulus terlihat salehnya, adil dan tidak bercacat, ia juga bekerja keras, siang dan malam bahkan menghadapi tantangan agar orang-orang di Tesalonika meneladani dirinya. Kita dapat meneladani Paulus. Firman Tuhan ini ingin agar kita dapat menjadi “Paulus-Paulus” baru yang telah diberkati oleh Allah. Setelah kita mendengar firman ini kiranya kita dapat menjadi “batu penjuru” di antara sesama kita dan tidak menjadi “batu sandungan”.
AMIN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar