Rabu, 11 November 2009

Hubungan antara Kristen dan Yahudi (1914 – 2000)

The Other
Hubungan antara Kristen dan Yahudi (1914 – 2000)
Ini adalah persoalan yang menggambarkan tahun 1914 sampai tahun 2000 sebagai periode yang penting bagi hubungan Yahudi dan Kristen. Dua peristiwa, golongan Eropa Yahudi selama peristiwa Holocaust (1933 – 1945) dan pembentukan Negara Israel (1948). Dua Negara ini mempunyai implikasi yang besar untuk identitas Yahudi modern dan menjadi penolakan terkuat pada gereja-gereja Kristen di masa sikap tradisional dan teologi. Hingga akhirnya, bidang dan isi setiap penelitian interaksi Kristen dengan Yahudi di abad 20 adalah bertekad akan peritiwa Nazi dan golongan Yahudi.
Menghubungkan permulaan dan batas akhir menjadi permasalahan. Penting untuk diakui bahwa penggalan alami komunitas Yahudi dalam dunia modern, hanya sebagai komunitas Kristen. Yang sangat menonjol oleh kaum Kristen ialah manusia yang tekun akan keagamaan atau penetapan teologi,sedangkan ciri Yahudi lebih kompleks dan dapat mempercepat cara sehingga dianggap sebagai tidak beragama. Satu cara dari Zoinisme, gerakan membentuk dan memelihara Negara Yahudi ialah bentuk yang tidak beragama dan bahkan anti Agama. Walaupun banyak bahaya yang melekat dalam pembicaraan tentang kebudayaan Yahudi akan pengetahuan positif yang meluas. Membicarakan itu, dengan tegas dimensi-dimensi interaksi Yahudi-Kristen selama periode ini akan menjadi focus pertama.
Peristiwa Holocaust dengan Negara pendukung pada dasarnya menyiksa dan membunuh sekurangnya 6 juta orang Yahudi dan juga orang Kristen lainnya oleh Jerman dan kaki-tangan mereka. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi kemanusiaan yang umum, tetapi pertanyaan itu tidak akan mengurangi inti dari persoalan-persoalan tindakan Kristianisasi. Beberapa ahli sejarah sekarang ini ingin mendukung segabai suatu panggilan urutan dalam berpidato, tuntutan untuk menemukan jalan kecil sebenarnya dari “teaching-contempt” (Kristen yang mengakari atau menajdi dasar Anti-Semitisme) dan permusuhan yang timbul antara pengikut Yesus dan orang-orang Yahudi dalam abad pertama, untuk rasial, pseudoscientific, pemusnahan anti-semitisme selama 20 tahun. Walaupun kecenderungan anti-Agama pada “Third Reich”, propagandis Nazi dengan cepat menagmbil tindakan atas barik-barik kekayaan anti-semitisme yang berada diakhir permukaan budaya Kristen Eropa.
Dalam tingkatan Institusional, Gereja Roma Katolik mengecam ‘keheningan’ dan untuk ketidakcakapan upaya diplomatic selama peristiwa Holocaust. Eugerio Pacelli, the future Pius XII (1939-1958), dilaksanakannya sebuah perdamaian atau perjanjian dengan Nazi yang hanya 6 bulan setelah mempunyai kekuatan. Perjanjian itu memberikan kepercayaan internasional terhadap rezim Nazi dan sangat merusak perlawanan Kristen melalui perjanjian tanpa campurtangan keadaan politik.
Selama Pius ke XII ini menjadi Paus, ketakutan godless Boeslavia dan penentuan untuk menentukan netralnya kebijaksanaan utnuk kepentingan pengikutnya dan untuk alasan diplomatic yang membahayakan posisi Vatikan dengan halnya perlakuan Nazi terhadap Yahudi. Pada 1942 Pesan natalnya, Pius XII menahan diri agar dengan tegas mengatakan antara Nazi atau Yahudi, dia meyakinkan bahwa ratusan ribu orang tanpa salah harus mati.
Protestanisme dibawah rezim Nazi mempunyai kerumitan pendirian pada tahun 1933, Gereja Evanggelis Jerman, federasi Lutheran, Reform dan Gereja United territorial. Nazi juga dapat mengambil semua keuntungan dari kekurangan kesatuan dan dalam konflik dengan Gereja Protestan. Setelah kematian dan pembinasahan peristiwa Holocaust, lahirlah Negara Israel modern pada 1948 menggambarkan perkembangan yang penting kedua antara hubungan Negara Yahudi-Kristen.
Masa Zionisasi Kristen ialah gambaran spectrum luas kelompok dengan pemandangan yang bervariasi, dari harafiah alkitab menganggap kembalinya pembuangan Israel sebagai tingkat dalam rencana besar menggembar-gemborkan datangnya Kristus, kepada pemikir-pemikir liberal eccumenicalisme tegas dan bagian mempelajari peristiwa Holocaust yang memimpin mereka untuk tidak bersyarat mendukung Negara Israel. Pada pertengahan kedua abad 20, Zionisme Kristen terkenal pemerintahan yang sukses memerintah Israel pasti seperti dukungan pemerintah mereka dan menyalurkan dana serta imigrasi Yahudi dari Rusia dan Negara eropa timur ke Israel.
Gereja roma katolik mengadakan permusuhan perhentian terhadap Zionisme dan Negara Yahudi. Pada desember 1917 negara sekutu Yerusalem dan walau Vatikan berlebihan mengenai control Protestan, Pope Benediktus XV dapat berbicara pada tahun 1919 atas ‘kegembiraan semua orang baik’ juga tempat kudus dan memerdekakan ‘dominasi orang kafir’ dan ‘memutuskan kembalinya atas tangan-tangan kristen’.
Dalam diskusi UN rencana pembagian (1947), Vatikan mendukung gagasan internasionalisasi Yerusalem dan setelah 1967 enam hari perang tersebut mencoba mempengaruhi kedudukan internasional tempat suci Kristen.
Dari tahun 1922 sampai 1948 Inggris mencoba melaksanakan perintah persekutuan bangsa untuk Palestina. Percobaan ini meliputi fasilisasi imigran Yahudi, penyelesaian Yahudi dan memerintah institusi sendiri, mempertahankan penduduk sipil dan penduduk Palestina. Bagaimanapun, politik Kristen lebih dominan kepada Yahudi sebagai dasar disbanding dengan pengenalan UN pada Israel. Kemenangan tentara Israel dalam perang atas kemerdekaan (1948) dan perang enam hari (1967) terhadap bala tentara persekutuan kecil Arab yang tidak dapat diperkirakan.
Mengikuti Holocaust, Kristen serupa dengan ide yang sulit bagaimana mendekatkan hubungan kekuatan antara Israel dan palestina. Jalan antara klaim keadilan social dan dugaan miring anti-semitis utnuk membuktikan kesulitan. Hal ini bertentangan dengan peristiwa Holocaust sendiri antara sejarah Yahudi-Kristen yang dapat dimengerti dengan baik. Semuanya mengganbarkan ketakutan Yahudi kepada Kristenisasi peristiwa Holocaust, yaitu kecenderungan merasa gereja menekan Kristen menjadi korban dan kepahlawanan seperti sebagai untuk meruntuhkan keunikan pengalaman Yahudi.
Tahun 1984 maklumat proposal untuk membangun biara Carmelite yang konsentrasi kepada kelompok Auschwitz membawa tentang krisis antar komunal. Kelompok Yahudi menentang kontemplatif Kristen dan pengeraskan peringatan yang faktanya pada pemberian pola dasar symbol penderitaan Yahudi selama Shoah. Kelompok Yahudi memberontak karena Bunda Theresa, perhatian pada katolikisme, lahirlah Edith Stein dan membunuh Auschwitz seperti Yahudi. Kanonisasi pada 1982 oleh Maximilian Kolbe, bagaimana imam berani menyelamatkan hidup tawanan lain di Auschwitz dengan membawa hukuman man’s place pada 1941, permasalahan Kolbe aktifitas pra-perang memasuki jabatan redaktur yang memasuki pokok anti-semitis. Daerah Konflik Yahudi-Kristen lainnya pada abad 20 berasal lebih dari perselisihan kuno.
Topik Kristen Yahudi selalu penuh dengan Kristen Ibrani pada abad 19 pemeliharaan untuk cabang penutupan dengan Gereja-gereja bukan Yahudi, 1970an dilihat gawatnya kelompok “Mesianik Yahudi” berjarak dari mereka sendiri yang Kristenitas bukan Yahudi. Ironisnya, perlawanan seperti kelompok mempersatukan dari pecahan-pecahan komunitas Yahudi.
Filsuf Yahudi Jerman dan ahli teologi, Martin Buber(1878-1965) terkenal oleh dua pikirannya tentang interaksi; berbicara sendiri dan berdialog. Kunci dialog agama, dia mempunyai usulan, pengakuan akan misteri kekuatan iman yang nyata. Buber mempengaruhi Yahudi dalam conteks ini, tetapi Kristen khususnya Protestan pemikir-pemikir melihat adanya pengaruh besar yang kuat.
Pada sinode Gereja Evangelis di Rhineland (1980) teristimewa yang mencolok. Yang telah diterima oleh umum ‘Kristen memberikan tanggapan dan kesalahan untuk peristiwa Holocaust’, hal itu pemahaman yang diakui Yahudi sendiri, pemilihan tetap Israel dan bagian Israel.
Pada masa hubungan Yahudi - Kristen abad 20 dilihat dari usaha dengan meningkat nilai Kristen secara individual dan institusi untuk mengenal hak kekuasaan dan tenaga pusatnya alkitab Yahudi dan untuk menghadapi tradisional klise mereka dan prasangka informasi teological. Yang unik antara hubungan Yahudi dan komunitas iman Kristen adalah sebab dari sumber pengalaman, alasan prasangka dan sulitnya berhubungan teologi untuk yang lain, dan komunitas ‘sejarah yang sangat panjang dalam ingatan dengan interaksi bangsa, itulah arti sebuah hubungan antara komunitas Kristen dan gampangnya mengingat kaum Yahudi.

Hubungan Antara Kristen dan Islam
Karena doanya orang Kristen maka pecahlah perang dunia pertama dan islam mempunyai perhatian sedikit disini, dan mereka hidup didaerah yang jauh. Komunitas muslim di Negara-negara seringkali mengalami dilemma antara mengambil bagian dalam pembangunan kehidupan nasional itu yang dibentuk atas nilai-nilai eropa dan norma-norma, dan dalam waktu yang sama perselisihan untuk menguasai kepercayaan tradisional mereka dan mempraktekkan.
Pada bagian surat terutama abad dasawarsa, mempercayakan pertumbuhan, dorongan oleh simbolik pemimpin Ayatullah Khomeini dari Iran, dan lebih semua muslim di dunia menjadi lebih mencolok sebagai bangsa beragama dengan perasaan yang kuat melawan pengaruh barat. Awalnya yang lebih menonjol adalah minyak baru di Arab. Pada abad pertengahan kembali menjadi sorotan ialah Intelektual.
Perbedaan antara dua kekuatan dan kebutuhan mendesak untuk penilaian kembali seadanya bagaimana mereka mendekatkan satu lain hal dengan respek membawa kembali Kristen barat melalui migrasi muslim pada Negara mereka. Dalam United Kingdom muslim berteriak melawan Salman Rushdie pada 1988 dan itu hampir saja diselubungi penghinaan kepada Nabi Muhammad. Pada waktu dewan 1964 Paus VI memberikan surat edaran panggilan masuk gereja yang dia maksudkan kepada muslim dengan hangat.

Hubungan antara Kristen, Buddha dan Hindu
Buddha
Sejarahnya hubungan antara Kristen,Buddha dan hindu dia abad 20 dengan bervariasi dan reflek karena banyaknya daerah yang berbeda dan keadaan sejarahnya yang spesifik. Perbedaan yang saat ini masih terjadi ialah agama teistik dan non-teistik. Di Sri Langka,sejarah dan ingatan sangat mempunyai pengaruh antara Kristen dan Buddha selama era colonial.
Berdasarkan tradisi Roma Katolik , satu yang pasti mencolok dari gambar pertemuan Kristen-Buddha yaitu biarawan dan imam Thomas Merton (1915-1968). Dalam Buddha, Merton mengambil Zen dan menghubungkannya dengan Kristen. Begitu dengan Kristen, Merton mengambil trandsedenci Allah kepada semua manusia. Di barat makin bertambahnya tidakadanya orientasi dari kondisi postmodern, dan menyebarluaskan perhatian pada tehnik bermeditasi dan spiritualitas bagian timur, Buddha memperoleh perkembangan dan signifikan merubah agama yang paling sedikit ketika mendatangkan praktik meditasi. (Walaupun, bagian barat pindah agama ke Buddha akan tetap menang dilihat dalam budaya Buddha di Negara barat yang adalah jejak dari sumber kepada Asia. Dalam refleksi teologi Kristen, mereka mempunyai upaya untuk mengabungkan Buddha dengan teologi postmodern, banyaknya itu seperti masa Kristen Buddha yang tentunya memperoleh peredaran dalam pemikiran teologi postmodern.
Perbedaan seperti ide pribadi atau tanpa diri, renkarnasi atau hidup sekali, penyelamatan dengan kemuliaan atau upaya, dosa atau memusnahkan, dll. Apapun itu sangat mungkin mendata seperti polaritas kehilangan kepemimpinan. Hal itu karena perbedaan belaka kepercayaan dan praktiknya antara arti dua agama yang mungkin mereka temukan dalam penutupnya bersama.

Hindu
Diluar abad 19, tetapi pergantian abad 20, adanya figure Swami Vivekananda (1863-1902). Vivekananda sangat pandai berbicara cepat saat pertama kali dunia parlemen agama di Chicago tahun 1893 menjadi pengaruh besar bagi Kristen kepada Hindu.
Melihat pertemuan antara Hindu dan Kristen di india pada abad 20, dapat merusak dengan perbedaan pendapat, dari ketidakadanya konfirmasi melihat beberapa kelompok konserfatif yang akan mengarisbawahi Kristen dan Hindu dan Kristen Hindu. Orang roma katolik Brahmabandhav Upadhyaya (1861-1907), dari Bengali Brahmin melatarbelakangi, pertentangan akan pesan Kristen yang harusnya pakaian Hindu yang akan menggunakan pantasnya orang india. Beliau mencoba membuat proposal pada Vatikan namun tidak berhasil. Bagaimanapun juga, luas dan bermacam alam Hindu di India tidak akan mencegah kita untuk mengambil seriusnya tentang ekspresi perkembangan diasporik kepercayaanHindu dan praktiknya yang akan tentunya mempunyai upaya pada penemuan kedepan. Baru dan berkembangnya perkembangan yang mungkin menunjukan maksud dari penemuan antara Kristen dan Hindu yang akan menjadi bervariasi, kompleks dan menarik di abad 21.
Teologi agama-agama
Meskipun semua itu tidak dapat mengartikan teologi agama yang sebagai pertanyaan sangat penting untuk Kristen yang hanya 20 abad bermasalah, namun permasalahan ide tersebut dengan yang menjadi utama makin bertambah mencolok dan genting. Bermacam alasan itu adalah pertambahan pengetahuan tentang iman lain, pembubaran orang-orang dan pengalaman diasporik sehingga membawa multi- budaya antara Negara barat kota dan kota kecil. Selain itu, semuanya ini menjadi penyebab globalisasi dan revolusi komunikasi.
Selain itu, sebagai global inter budaya pengalaman memperoleh juara kelancaran dalam masa depan, hal itu menjadi harapan bagi yang buka Kristen bagian barat suara-suara yang akan semakin bertambah memberitahukan dan sebenarnya menjadi diskusi masa depan yang sangat penting bagi teologi.







Tanggapan :
Tahun 1914-2000 adalah tahun yang dapat dikatakan sangat berkesan bagi kaum Yahudi dan Kristen. Karena pada tahun tersebut adalah sejarah dan saksi bisu yang memakan banyak korban jiwa baik orang Yahudi maupun orang Kristen.
Pada tahun ini, hubungan Yahudi dan Kristen ingin dipersatukan dalam agama, namun karena pada saat itu Nazi memegang peranan yang sangat penting begitu juga Israel. Dua Negara ini mempunyai implikasi yang besar untuk identitas Yahudi modern dan menjadi penolakan terkuat pada gereja-gereja Kristen. Yang sangat menonjol oleh kaum Kristen dikatakan dalam tahun tersebut adalah sebagai manusia yang tekun akan keagamaan atau penetapan teologi, sedangkan ciri Yahudi sering dianggap sebagai orang tidak beragama.
Peristiwa Holocaust dengan Negara pendukung sangat mngenaskan berjuta jiwa manusia harus mati tanpa salah. pada dasarnya mereka menyiksa dan membunuh dengan Jerman dan kaki-tangan mereka.
Dalam diskusi UN rencana pembagian (1947), Vatikan mendukung gagasan internasionalisasi Yerusalem dan setelah 1967 enam hari perang tersebut mencoba mempengaruhi kedudukan internasional tempat suci Kristen. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi Vatikan untuk mendukung gagasan tersebut? Bagaimanapun, politik Kristen lebih dominan kepada Yahudi sebagai dasar dibanding dengan pengenalan UN pada Israel.
Mengikuti Holocaust, Kristen serupa dengan ide yang sulit bagaimana mendekatkan hubungan kekuatan antara Israel dan palestina. Jalan antara klaim keadilan social dan dugaan miring anti-semitis untuk membuktikan kesulitan. Hal ini bertentangan dengan peristiwa Holocaust sendiri antara sejarah Yahudi-Kristen yang dapat dimengerti dengan baik. Mengapa rencana yang dibuat oleh Kristen malah menjadi berbeda dengan awal mulanya misi tersebut?
Dalam hubungan yang dibuat oleh Kristen pasti mempunyai misi dan misi tersebut sangat mengalami perbedaan dalam penerimaaan setiap Negara atau agama. Namun, banyak yang tidak dijelaskan dalam buku tersebut.
Karena doanya orang Kristen maka pecahlah perang dunia pertama dan Islam mempunyai perhatian yang hanya sedikit disini, dan mereka hidup di daerah yang jauh atau mungkin terpencil. Pada hubungan yang terjadi antara Kristen dan Islam mempunyai banyak perbedaan dalam prinsip dan hal itu adalah salah satu alasan dasar sulitnya terjadi perkembangan Kristen terhadap Negara-negara Islam. Memang sudah sejak awal muslim menolak namanya ajaran barat , maka tidak heran jika pada masa sekarang banyak fatwa yang lebih pantas tertuju pada kaum barat.
Islam dan Kristen mempunyai kekuatan dalam agama mereka. Islam memnpunyai prinsip yang sangat kuat khususnya yang menyangkut ajaran mereka. Dalam United Kingdom muslim berteriak melawan Salman Rushdie pada 1988 dan itu hampir saja diselubungi penghinaan kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad yang diagung dan muliakan itu layaknya seperti Yesus jika dijadikan objek sebagai celaan rasanya kurang sedap didengar.
Sejarahnya hubungan antara Kristen, Buddha dan Hindu sudah ada pada abad 20 dengan bervariasi dan reflek karena banyaknya daerah yang berbeda dan keadaan sejarahnya yang spesifik. Dikatakan bahwa Kristen membawa keselamatan tetapi Buddha tidak dapat membawa keselamatan. Di Sri Langka, sebuah sejarah dan ingatan sangat penting karena darisanalah didapatkan informasi terbentuknya sebuah agama dan lain hal baik masing-masing maupun antara agama. kristen dalam hubungannya dengan Buddha menciptakan suatu keharmonisasian, mereka mengkolabirasikan antara meditasi dan spiritualitas baik secara keyakinan dan praktiknya.
India mempunyai daerah yang cukup luas untuk menjalankan misi terutama kristen. Namun, Hindu begitu sulit menjadi relasi atau menggabungkan dua agama tersebut. Berkembangnya perkembangan yang mungkin menunjukkan maksud dari penemuan antara Kristen dan Hindu yang akan menjadi bervariasi, kompleks dan menarik di abad 21.
Sulitnya mengartikan teologi agama pada agama-agama lain adalah permasalahan yang menjadi sebuah batu loncatan atau semangat untuk melakukan kembali pengajaran tentang teologi agama. Dan setiap macam alasan itu adalah menjadi pertambahan pengetahuan tentang iman lain, pembubaran orang-orang dan pengalaman diasporik sehingga membawa multi- budaya antara Negara barat kota dan kota kecil. Selain itu, semuanya ini menjadi penyebab globalisasi dan revolusi komunikasi.
Selain itu, sebagai global inter budaya pengalaman memperoleh juara kelancaran dalam masa depan, hal itu menjadi harapan bagi yang buka Kristen bagian barat suara-suara yang akan semakin bertambah memberitahukan dan sebenarnya menjadi diskusi masa depan yang sangat penting bagi teologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar