Rabu, 11 November 2009

Observasi Musik dalam Beberapa Aliran

Observasi Musik dalam Beberapa Aliran
Musik gereja mempunyai peranan yang sangat penting dalam ibadah baik gereja maupun sekadar peObservasi Musik dalam Beberapa Aliran sekutuan dengan Mazmur, Pujian-pujian, Nyanyian Jemaat dll.
Dalam kesempatan ini penulis akan menjelaskan berdasarkan observasi dalam beberapa gereja dengan aliran yang berbeda. Dalam paper ini penulis hanya mengobservasi 3 aliran atau gereja saja, yaitu Ortodoks Lutheran dan Kharismatik. Dalam gereja yang beraliran Ortodoks misalnya, ibadah mereka dapat dikatakan masih seperti gereja mula-mula begitu hening dan damai. Tradisi gereja tersebut layaknya seperti orang yahudi. Musik dalam gereja Ortodoks bukanlah sekadar memperindah ibadah saja tetapi bagian integral yang tidak dapat dipisahkan oleh iman jemaat tersebut. Namun mereka lebih kepada kidung nyanyian saja tanpa musik, karena bagi mereka musik seperti menyembah berhala.
Gereja Ortodoks mempunyai beragam ibadah seperti Sakramen, Sembahyang Harian, Doa spontan, Masa pesta dan Masa puasa. Dalam sakramen gereja ini mempercayai bahwa Babtisan Kudus, Krisma Kudus, Pengakuan Doa, Perjamuan Kudus, Nikah Kudus, Penyembuhan (Peminyakan Kudus), Pentahbisan Kudus, Pemakaman Orang meninggal, Pemberkatan Air, Upacara Penjadian Rahib, dll. Dalam sakramen tidak semua dilaksanakan dengan alunan musik atau kidung melainkan doa-doa saja. Dalam sembahyang hariannya gereja ini lebih menekankan perkataan Daud atau Mazmur. Dalam ibadah ini jemaat menghadap kiblat dan bersujud dengan seruan “Mubaraklah Allah” dan dilanjutkan dengan “Doa Trisagion” kemudian ditutup dengan “Doa Bapa Kami” dan setelah itu menyanyikan kidung “Salam kepada perawan Maryam”.
Doa spontan hanya doa dengan memuja Yesus dan menggunakan seperti tasbih dalam agama Islam. Gereja Ortodoks mengenal dua belas pesta atau perayaan gereja, yaitu; 8 September ( Kelahiran Maria sang Theotokos), 14 September (Pengangkatan Salib), 21 November (Penyerahan Theotokos ke Bait Allah), 25 Desember (kelahiran Kristus), 6 Januari (Pembaptisan Kristus), 2 Februari (Penyerahan Kristus ke Bait Allah), 25 Maret (Pemberitaan malaikat Gabriel kepada Maria), 6 Agustus (Pemuliaan Kristus di atas Gunung), 15 Agustus (Kematian Theotokos).
Berbeda dengan gereja Ortodoks, Lutheran khususnya HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Gereja ini sangat memelihara adat istiadatnya. Gereja ini mempercayai adanya dua sakramen yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Baptisan Kudus dilaksanakan pada minggu pertama dalam tiap bulannya. Dalam Perjamuan Kudus gereja ini hanya melaksanakan dua kali pada perayaan Jumat Agung dan Natal. Ibadah dalam gereja ini dibagi menjadi tiga waktu yakni pagi, menjelang siang dan sore. Dalam ibadah pagi dan menjelang siang gereja tersebut menggunakan bahasa daerah atau Batak dalam nyanyian, doa-doa hingga dengan firman. Sedangkan dalam ibadah sore digunakan bahasa Indonesia karena kebanyakan ibadah ini diikuti oleh naposo ( Pemuda/Pemudi).
Dalam setiap ibadah gereja ini mempunyai dua pemandu lagu. Nyanyian jemaat hanya dari Kidung Jemaat dan buku Ende. Tidak ada nyanyian bersahut-sahutan atau kanon, nyanyian dinyanyikan bersama-sama. Ibadah hanya dipimpin oleh parhalado (Penatua). Sekarang ini gereja tersebut agak mengikuti gaya dalam ibadahnya seperti Karismatik namun tata liturgi tetap pada jalurnya. Dalam setiap bulannya terkhusus pada ibadah sore dua kali dalam seminggu akan diadakan ibadah kren. Nyanyian Kidung Jemaat yang dipadukan dengan nyanyian kontemporer.
Dalam Karismatik, tata liturgi dalam ibadahnya tidak beraturan. Gereja tersebut hanya melakukan sekali persembahan yang diletakkan sebelum firman atau setelah firman. Gereja ini sangat meyakinkan bahwa bahasa roh mempunyai peranan penting dalam ibadah mereka. Gereja ini berbeda dengan dua aliran di atas yang lebih memilih keheningan dalam beribadah, gereja ini lebih mengutamakan full musik sehingga menarik banyak kaum muda dalam ibadahnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar