Rabu, 11 November 2009

Teologi Feminis dalam PB 1

Teologi Feminis dalam PB 1
Di penghujung tahun lalu, perhatian masyarakat terfokus pada dua isu heboh yang sejatinya saling berlawanan; yaitu video mesum duet YZ-ME dan poligami Aa Gym. Berlawanan baik dalam sisi etika, moral maupun agama. Dari ketiga sisi ini, jelas semua orang akan mengatakan bahwa adegan video mesum tersebut mutlak salah dan amoral. Sedangkan tentang isu poligami, semua orang tidak akan pernah sepakat mengatakan bahwa poligami Aa Gym itu mutlak salah. Karena dalam agama, memang poligami diperkenankan dengan beberapa cacatan. Namun anehnya, justru pemerintahan SBY lebih “mengurusi” isu poligami dengan meninjau kembali undang-undang (baca: mempersulit) poligami.
Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah kenapa pemerintah lebih mengkonsumsi isu poligami yang telah lama eksis di masyarakat? Apa dan siapa di balik niat pemerintah mengkaji ulang undang-undang poligami?
Memang tidak mudah untuk menjawab pertanyaan di atas secara cepat dan tepat. Sebab diperlukan riset yang tidak sederhana. Tapi bagaimanapun, bila ditinjau dari bingkai feminisme, penolakan poligami adalah bagian dari isu ini. Paham feminisme adalah setali tiga uang dengan paham-paham sekularisme, liberalisme dan pluralisme agama. Feminisme dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai advocacy of women’s right and sexual equality (pembelaan terhadap hak perempuan dan kesetaraan pria-wanita). Namun dalam perkembangannya, paham feminisme menuntut penggunaan bahasa gender-inclusive, seperti kata chairwoman untuk menggeser chairman, dsb.
Dalam strata sosial, feminisme menuntut hal-hal seperti: legalisasi undang-undang pro-aborsi, hak wanita untuk memilih sebagai ibu rumah tangga atau meninggalkannya, hak mensterilkan kandungan (female genital cutting), dsb. Sedangkan dalam agama, feminisme menuntut penafsiran bercorak feminis terhadap kitab suci, kesamaan waris, hak talak bagi wanita, tidak wajib berjilbab karena jilbab adalah simbol pengekangan berekspresi dan pelecehan eksistensi sosial wanita, pengharaman poligami, menuntut pemberlakuan masa iddah bagi laki-laki, dsb.
Tafsir feminis terhadap Kitab Suci
Dalam buku Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan yang edisi aslinya berjudul The Interpretation of the Bible in the Church, the Pontifical Biblical Commision (Kanisius:2003), dijelaskan bahwa asal-usul sejarah penafsiran kitab suci ala feminis dapat dijumpai di Amerika Serikat di akhir abad 19. Dalam konteks perjuangan sosio-budaya bagi hak-hak perempuan, dewan editor komisi yang bertanggung jawab atas revisi (tahrif) Alkitab menghasilkan The Woman's Bible dalam dua jilid. Gerakan feminisme di lingkungan Kristen ini kemudian berkembang pesat, khususnya di Amerika Utara.
Dalam perkembangannya, gerakan feminis ini memiliki 3 bentuk pendangan terhadap Alkitab, Pertama; yaitu bentuk radikal yang menolak seluruh wibawa Alkitab, karena Alkitab dihasilkan oleh kaum laki-laki untuk meneguhkan dominasinya terhadap kaum wanita.
Kedua, berbentuk neo-ortodoks yang menerima Alkitab sebatas sebagai wahyu (profetis) dan fungsinya sebagai pelayanan, paling tidak, sejauh Alkitab berpihak pada kaum tertindas dan wanita.
Ketiga, berbentuk kritis yang berusaha mengungkap kesetaraan posisi dan peran murid-murid perempuan dalam kehidupan Yesus dan jemaat-jemaat Paulinis. Kesetaraan status wanita banyak tersembunyi dalam teks Perjanjian Baru dan semakin kabur dengan budaya patriarki.
Lebih lanjut, Letty M. Russel dalam bukunya Feminist Interpretation of The Bible yang telah diindonesiakan dengan tema Perempuan & Tafsir Kitab Suci, menjelaskan lebih rinci 3 metode tafsir feminis terhadap Alkitab. Ketiga metode ini adalah: a) Mencari teks yang memihak perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk menindas perempuan. b) Menyelidiki Kitab Suci secara umum untuk menemukan perspektif teologis yang mengkritik patriarki. c) Menyelidiki teks tentang perempuan untuk belajar dari sejarah dan kisah perempuan kuno dan modern yang hidup dalam kebudayaan patriarkal.
Maka berbekal ketiga pendekatan ini, mereka kemudian menafsirkan beberapa ayat Bibel yang dipandang menindas wanita. Di antara ayat-ayat Bibel yang ditafsirkan secara feminis adalah sebagai berikut:
1. Perempuan diciptakan sesudah laki-laki, dari tulang rusuknya (Kejadian 2:21 -23). Ayat ini kemudian ditafsirkan dengan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.
2. Perempuan lebih dahulu berdosa, karena perempuanlah yg terbujuk oleh ular untuk makan buah terlarang (kejadian 3:1-6 dan 1Timotius 2:13 -14) bahkan dilarang memerintah dan mengajar laki-laki (1Timotius 2:12 ). Ayat ini ditafsirkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bertanggung jawab atas ketidakpatuhan mereka kepada Tuhan dan sama-sama tertipu oleh bujukan ular.
3. Perempuan tidak mempunyai hak bicara dan harus tutup mulut di gereja (1Korintus 14:34 -35). Ayat ini ditafsirkan sebagai nasehat “khusus” untuk mengatasi kekacauan dalam jemaat Korintus dan tidak berlaku secara umum (di luar jemaat Korintus).
4. Derajat perempuan di bawah laki-laki dan dia harus tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22 -23). Ayat ini ditafsirkan bahwa dalam berumah tangga, perempuan dan laki-laki harus saling merendahkan diri.
Metode tafsir feminis mungkin tepat untuk diterapkan pada Alkitab sebagai bentuk solusi terhadap Sabda Allah dalam bahasa manusia, yang dikarang oleh banyak manusia dalam semua bagiannya melalui sejarah yang panjang dengan sekitar 5000 ragam manuskrip Bibel yang tidak mudah didamaikan antara satu dan lainnya.
Namun corak penafsiran feminis jelas tidak tepat bila diterapkan pada Al-Qur'an yang mempunyai karakter yang berbeda dengan Alkitab. Anehnya, bagi kalangan liberal Islam, metode ini dipaksakan terhadap studi Al-Qur'an.
Sebagai contoh, Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir liberal Mesir yang dimurtadkan oleh 2000 ulama negerinya dan saat ini banyak dianut di kebanyakan IAIN, secara tegas meniru tradisi umat Kristen ini. Dalam memandang ayat-ayat Al-Qur’an tentang wanita, Abu Zayd selalu menafsirkan ala feminis yang berawal dari sikap curiga dan dalih sistem patriarkis yang melatarbelakangi masyarakat Arab abad 7M. Kemudian membenturkannya dengan ayat-ayat yang dapat mengkritik dominasi laki-laki. Sehingga ayat-ayat yang terkesan ‘menindas wanita’ ditafsirkan dalam bentuk kesetaraan hak, kesamaan bagian, kedudukan dan tanggung jawab.
Abu Zayd, dalam bukunya Voice of an Exile (2004:174-175), memandang Al-Quran layaknya seperti umat Kristen terhadap Bibel. Dalam isu gender, dia mempertanyakan: Apakah setiap yang termaktub dalam Al-Quran adalah firman Allah yang harus diaplikasikan? Dia berpendapat bahwa Al-Quran mempunyai dua dimensi; dimensi historis dan dimensi mutlak. Lalu menganalogikannya dengan Bibel dalam pandangan Kristen: “According to Christian doctrine, not everything that Jesus said was said as the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as a man”.
Kesimpulan
Legalisasi pengetatan undang-undang poligami cenderung berkiblat pada paham feminisme. Feminisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari paham-paham liberalisme, sekularisme dan pluralisme agama yang berakar tunjang pada tradisi Kristen. Feminisme sebagaimana paham Sipilis bukan lagi sekedar wacana, tapi telah menjadi gerakan nyata yang dikampanyekan di kebanyakan perguruan tinggi dan media massa.

Teologi Feminis dalam PB 2

Teologi Feminis dalam PB 2
Siapa Elisabeth Schüssler Fiorenza?
Elisabeth Schüssler Fiorenza lahir di Jerman dan tinggal di sebuha lingkungan Katolik di Fraconia. Beberapa tahun kemudian ia menjalani pendidikan di sebuah Sekolah Katolik Amerika. Ketika masih anak-anak Elisabeth Schüssler Fiorenza sangat dekat dengan lingkungan Katolik Roma, dimana ia diperkenalkan dengan berbagai macam pengajaran dan tradisi iman Katolik. Ketika menginjak masa remaja, ia mulai gemar membaca dan menikmati berbagai macam cerita santo-santa. Pada tahun 1963 ia menjadi wanita pertama yang memperoleh gelar Teologi di Universitas Würzburg Jerman. Tugas akhirnya adalah The ministries of women in the church diselesaikan pada tahun 1962. Ia kemudian meneruskan pendidikan Lisensiat dalam bidang Pastoral dan Teologi pada tahun 1963. Pada tahun 1970 ia menyelesaikan program doktoratnya dalam bidang Perjanjian Baru, yaitu membahas tentang Imamat menurut Kitab Wahyu. Karya tulisnya telah dibukukan dan diterbitkan dalam bahasa Jerman dan sudah diterjemahkan juga dalam berbagai bahasa lain. Ia juga banyak menulis tentang Kitab Wahyu dan juga menulis beberapa artikel mengenai Yudaisme dan Jemaat Kristen Perdana. Beliau memperoleh gelar Profesor bidang Perjanjian Baru dan Teologi di universitas Notre Dame pada tahun 1980 dan Profesor dalam bidang Perjanjian Baru di Sekolah Episcopal Divinity di Cambridge, Massachussets pada tahun 1987. Dalam perjalanan waktu Elisabeth Schüssler Fiorenza telah memperoleh berbagai macam penghargaan, beasiswa, doktor kehormatan, baik dalam skala nasional maupun internasional. Ia menjadi ketua Society of Biblical Literature pada tahun 1983, sebagai konsultan pembicara gerakan perempuan Gereja dalam Catholic Theological Studies Association, dan menjadi anggota pembicara mengenai Perempuan dalam Jemaat Kristen Perdana di Catholic Biblical Association. Fiorenza menikah dengan Francis Schüssler Fiorenza, seorang profesor di Harvard Divinity School, dan mempunyai seorang putri yaitu Christina. Selama berkarir, Fiorenza banyak memberikan kontribusi pada telogi feminis. Ia telah menulis berbagai macam buku dan karangan. Beberapa publikasi yang pernah ia buat antara lain: In memory of her: A feminist theological reconstruction of early Christian origins (1983), The Book of Revelation: Judgment and justice (1976), Bread not stone: The challenge of feminist biblical interpretation (1984) and Discipleship of equals: A critical feminist ecclesiology of liberation (1993). Berbagai macam buku dan karangan yang pernah ia tulis biasanya memiliki topik seputar jemaat kristen prdana, kaum perempuan dan pelayanan Gereja, spiritualitas feminis, pelayanan kaum feminis, patriarki kaum laki-laki, wanita dan gereja, dll[1].
Elisabeth Schüssler Fiorenza termasuk dalam golongan teolog feminis aliran teologi feminis reformis. Kelompok aliran ini juga mengakui adanya dominasi laki-laki dalam tradisi kristen, tetapi mereka mempunyai harapan akan terjadinya transformasi dalam tubuh gereja. Tradisi kristen mempunyai unsur-unsur kuat untuk pembebasan, jadi kesempatan transformasi masih terbuka. Maka mereka memilih tetap dalam gereja untuk melakukan tranformasi. Para teolog feminis Katolik dalam kelompok ini bekerja dengan metode pembebasan. Mereka mencari unsur-unsur patriarki yang dapat dibongkar kemudian dirubah menjadi unsur-unsur keadilan dan kesetaraan gender.
Kaum Feminis dan Kitab Suci
Tulisan ini hendak mengulas mengenai pandangan salah seorang tokoh feminis yaitu Elisabeth Schüssler Fiorenza terutama berkaitan dengan salah satu pandangannya tentang Kitab Suci. Maka fokus tulisan ini lebih mau menunjukkan kaitan antara pandangan teologi feminis berkaitan dengan heremeneutika Kitab Suci. Hal ini hanyalah sebagian kecil dari pandangan teologi Elisabeth Schüssler Fiorenza, karena kita tahu bahwa salah seorang tokoh feminis ini memiliki berbagai macam sisi tilik tentang feminis. Elisabeth Schüssler Fiorenza mengatakan bahwa pusat hermeneutik adalah Gereja Perempuan. Ini bukan berarti perempuan memisahkan diri dari gereja. Istilah Yunani Ekklesia berarti pertemuan umum orang-orang merdeka untuk mengambil keputusan tentang kesejahteraan sosial mereka dan anak-anaknya. Jadi gereja perempuan adalah gerakan perempuan dalam Gereja, merupakan gerakan pembebasan perempuan yang muaranya adalah full humanity. Hal inilah yang dirasa menjadi tujuan gerakan feminis yaitu pembebasan. Hal ini juga terungkap dalam perhatinnya mengenai interpretasi Kitab Suci menurut kaum perempuan, yaitu supaya kaum perempuan juga mengalami pembebasan secara khusus dari pemaknaan akan Kitab Suci yang cenderung menggunakan legitimsi Kitab Suci untuk menindas kaum perempuan.
Analisis budaya patriarkat diterapkan pula dalam membaca Kitab Suci karena patriarkat sebagai piramida kaum laki-laki mengokohkan penindasan kaum perempuan yang berlanjut dengan penindasan berbasis kelas, ras, negara atau agama dimana kaum perempuan juga menjadi bagian dari penindasan ini. Elisabeth Schüssler Fiorenza meyakini bahwa kendati Kitab Suci memiliki latar belakang patriarkat di zaman purba namun ia memiliki unsur-unsur yang secara potensial berciri liberatif, tidak saja bagi kaum perempuan tetapi juga untuk setiap orang yang mengalami penindasan di dalam sistem patriarkat dewasa ini. Konsekuensinya, beberapa pernyataan dalam Kitab Suci mengenai perempuan haruslah secara hati-hati dianalisa dan dimaknai dengan kesadaran adanya bias gender. Kitab suci sendiri sebenarnya bersifat dualisme, seperti yang ditekankan dalam studi biblis perempuan. Di satu sisi sebuah Kitab Suci ditulis dalam bahasa androgini, yang berakar pada budaya patriarki dan secara langsung di dalam Kitab Suci ditekankan mengenai nilai-nilai patriarkal. Di sisi lain, kItab Suci memberi inspirasi dan mendorong kaum perempuan dan orang lain dalam perjuangannya melawan budaya patriarkal[2]. Maka Elisabeth Schüssler Fiorenza menawarkan metode pembacaan dan penafsiran Kitab Suci dari sudut pandang feminis. Metode ini dikenal dengan istilah Hermeneutika Feminis.
Model Hermeneutika Feminis atas Kitab Suci
Elisabeth Schüssler Fiorenza menawarkan cara menafsirkan Kitab Suci sehingga mampu dipahami oleh kaum feminis terutama dalam konteks yang liberal dan tidak bias gender. Metode yang digunakan adalah hermeneutika feminis. Hermeneutika feminis mengacu pada teori, seni dan ketrampilan serta praktik penafsiran Kitab Suci dan teks-teks kuno Kitab Suci demi kepentingan kaum perempuan. Hermenutika feminis tidak terlepas dari model kecurigaan dan kenangan yang menjadi titik tolaknya. Hermeneutika kecurigaan mengajak untuk membangkitkan kesadaran yang menuntut seseorang untuk turut mempertimbangkan pengaruh dari berbagai peran dan pola sikap menyangkut jenis kelamin yang ditentukan secara kultural dalam Kitab Suci. Sedangkan hermenutika kenangan hendak membangkitkan kembali kenangan penderitaan dan ketidakadilan yang telah ditimbulkan oleh kaum patriarkat[3]. Elisabeth Schüssler Fiorenza memberikan kunci dalam model penafsian Kitab Suci sebagai berikut:
1. Suspicion
Dengan menumbuhkan sikap kecurigaan dan tidak secara langsung atau mutlak menerima otoritas Kitab Suci, dengan kata lain kaum perempuan diharapkan dapat membaca Kitab Suci secara kristis. Karena apa? Perlu diingat beberapa hal yang telah disebutkan diatas berkaitan dengan proses penulisan Kitab Suci adalah bahwa Kitab Suci ditulis oleh kaum laki-laki dan diwarnai oleh budaya laki-laki yang sangat mendominasi.
2. Evaluation
Tahap ini mau memberikan evaluasi kristis terhadap otoritas Kitab Suci. Kaum perempuan memiliki otoritas untuk memilih dan menolak suatu teks atau perikop Kitab Suci tertentu yang dirasa tidak sesuai dengan jiwa feminis. Teks atau perikop Kitab Suci terlebih dahulu dievaluasi dan diuji menurut isi pembebasan dalam konteks feminis dan fungsinya dalam konteks historis masa kini. Penafsiran suatu perikop Kitab Suci harus lahir dari suatu penelitian yang sistematis akan pengalaman penindasan dan pembebasan perempuan. Maka teks harus dibebaskan dari kungkungan tradisi atau budaya tertentu terlebih budaya patriarki.
3. Proclamation
Tahap ini mau menafsirkan Kitab Suci melalui pemberitaan, artinya dalam tafsir feminis dikembangkan pemberitaan bahwa teks dalam Kitab Suci yang menunjukkan penindasan dan diskriminasi manusia bukanlah Sabda Allah. Maka kaum perempuan harus senantiasa menyadari bahwa dirinya memiliki otoritas memilih perikop Kitab Suci yang tidak menggambarkan penindasan. Kaum perempuan perlu bersikap kritis dalam membaca Kitab Suci sehingga dapat membedakan mana yang menjadi kabar baik dan mana kabar buruk bagi manusia tertindas.
4. Reconstruction
Rekonstruksi yang dimaksudkan adalah membangun kembali rekaman ingatan dan sejarah. Hal ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci adalah bahasa androsentris sebagai bahasa umum, sehingga perempuan tidak masuk di dalamnya. Untuk menyadari bahwa perempuan juga berada dalam perikop Kitab Suci maka perlu dibaca perikop perempuan sebagai indikator dan petunjuk bahwa perempuan ada di pusat kehidupan Kitab Suci.
5. Imagination
Penafsiran melalui perayaan dan ibadat ritual, untuk melengkapi penafsiran melalui pengenangan kembali dan rekonstruksi sejarah. Mengangkat kembali indikator adanya kehidupan feminis dalam Kitab Suci, dapat menolong imajinasi historis, gubahan yang artistik dan perayaan liturgis. Maka ceritera dalam Kitab Suci dapat dituturkan ulang dari perspektif feminis[4].
Tujuan Model Penafsiran Kritis
Menurut Elisabeth Schüssler Fiorenza, Kitab Suci perlu dimaknai sebagai kebenaran yang sungguh serta tanpa salah yaitu segala sesuatu yang dikehendaki Allah demi keselamatan manusia. Keselamatan disini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai keselamatan jiwa saja yaitu pembebasan dari dosa, namun keselamatan juga perlu dimengerti sebagai suatu situasi pembebasan dari tindakan sosial politik. Kadangkala kaum wanita mendapat perlakuan tidak adil dan banyak mengalami penderitaan karena adanya eksploitasi dan struktur patrialkal yang membeda-bedakan manusia menurut jenis kelaminnya. Maka peran Kitab Suci disini jangan sampai menjadi pelembagaan atau legitimasi untuk bertindak tidak adil dan menekan kaum wanita[5]. Oleh karena itu perlulah penafsiran kritis atas Kitab Suci.
Penafsiran kristis atas Kitab Suci ini bukan hanya akan memberikan pencerahan bagi kaum perempuan dalam membaca dan menggunakan Kitab Suci namun juga akan menunjukkan bagaimana pembacaan kaum perempuan terhadap Kitab Suci sungguh dibatasi oleh situasi sosioreligius dan budaya mereka. Hal ini dilakukan demi mencegah kemungkinan-kemungkinan kooptasi dari budaya patriarki. Oleh karena itu interpretasi biblis dari kaum feminis hendaknya ditempatkan dalam pusat perhatian pada perjuangan kaum perempuan untuk mentransformasi struktur-struktur patriarkal baik dalam teks Kitab Suci maupun konteksnya, daripada memfokuskan pada masalah teks Kitab Suci yang berbada androsentris. Proses penafsiran kristis ini diharapkan membantu kaum perempuan semakin dapat merasakan adanya kebebasan dari struktur patriarkal yang cenderung mengeksploitasi, membuat kaum perempuan terpinggir dan mengalami ketidakadilan[6].

Daftar Acuan
-, Sejarah Hidup Elisabeth Schüssler Fiorenza di www.ars-hetooric.net/Queen/ Editor/Schussler.html, diunduh pada 25 Oktober 2007.
Clifford, Anne M., Memperkenalkan Teologi Feminis, Ledalero, Maumere, 2002.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler, Searching the Sriptures: vol. 01: A Feminist Introduction, Crossroad, New York, 1993.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Struggle is A Name for Hope: A Critical Feminist Interpretation for Liberation”, Pasifica, Pasific, 1997.
Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Demi Keselamatan Kita: Interpretasi Alkitab, Suatu Tugas Teologis” dalam Hommes, Tjaard. G-E. Gerrit Singgih (Ed), Teologi dan Praksis Pastoral : Antologi Teologi Pastoral, Kanisius, Yogyakarta, 1992.
________________________________________
[1] Disarikan dari sejarah hidup Elisabeth Schüssler Fiorenza di www.ars-hetooric.net/Queen/ Editor/Schussler.html, diunduh pada 25 Oktober 2007.
[2] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, Searching the Sriptures: vol. 01: A Feminist Introduction, Crossroad, New York, 1993, 5.
[3] Clifford, Anne M., Memperkenalkan Teologi Feminis, Ledalero, Maumere, 2002, 93-94.
[4] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Struggle is A Name for Hope: A Critical Feminist Interpretation for Liberation”, Pasifica, Pasific, 1997, 236.
[5] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, “Demi Keselamatan Kita: Interpretasi Alkitab, Suatu Tugas Teologis” dalam Hommes, Tjaard. G-E. Gerrit Singgih (Ed), Teologi dan Praksis Pastoral : Antologi Teologi Pastoral, Kanisius, Yogyakarta, 1992, 278-279.
[6] Fiorenza, Elisabeth Schüssler, Searching the Sriptures: vol. 01: A Feminist Introduction, 21.

Sosial Injil Di Dalam Kehidupan Gereja

Sosial Injil Di Dalam Kehidupan Gereja

Pada awal dekade, pergerakan sosial injil dibawa dengan semangat individu yang bersifat ramalan dan organisasi reformasi. Pergerakan itu sering menjadi pengganggu bagi gereja dan gereja sering tidak dihargai. Dalam usaha gereja untuk mengumpulkan daya gerak di pergantian abad, pejabat menjadi bagian yang lebih di dalam gereja tersebut. Satu hal yang penting adalah masuknya pernyataan keyakinan sosial dalam konferensi umum gereja mengenai hal-hal keuskupan gereja metodis di tahun 1908. Pada tahun yang sama, dewan gereja pusat telah dibentuk dibawah kepemimpinan yang dipengaruhi oleh sosial injil. Dewan pemerintah pusat memiliki pernyataan iman sosial sendiri dan tidak mengadopsinya. Dalam format gereja metodis gereja perlu berdiri.
Untuk hak yang sama dan melengkapi keadilan untuk semua orang dalam kehidupan.
Untuk prinsip pemufakatan di dalam perslisihan industri.
Untuk perlindungan pekerja dari bahaya mesin, luka-luka, dan kematian.
4. Untuk penhapusan kepada buruh anak .
5. Untuk peraturan dari keadaan tenaga kerja wanita sebagai perlindungan mereka.
6. Karena adanya penindasan.
7. Untuk pengurangan jam kerja menjadi yang layak demi menciptakan kehidupan yang baik.
8. Untuk melepaskan dalam tujuh hari kerja
9. Untuk suatu upah hidup dalam industri
10. Untuk upah yang tinggi yang dapat diusahakan.
11. Untuk pengakuan peraturan utama dan pikiran dari Kristus sebagai hukum masyarakat tertinggi.
Dalam konferensi umum memanggil semua pendeta untuk mempelajari masalah ini. Pengajaran seperti Yesus di pahami dan digunakan mereka. Semua anggota dihimbau untuk mencari kerajaan Allah. Kehendak Allah diyakini akan dilaksanakan di bumi maupun di surga.
Pernyataan kayakinan sosial setidaknya menghasilkan sesuatu yang dijadikan teladan bagi gereja. Pernyataan tersebut diperuntukkan untuk s elamanya meliputi berbagai isu penting lainnya setelah pergerakan sosial injil yang telah memudar.
Sosial Gospel dalam Nyanyian
Di dalam gereja pada masa tersebut memang ada pengutamaan terhadap segala doktrin atau penekanan terhadap disatukannya tata ibadah dan pujian. Berbagai bahan tata ibadah, mencakup doa dan pernyataan iman dan pujian, dipengaruhi pergerakan itu. Ini mencakup pernyataan iman orang korea dengan persaudaraan pria dan Bapa ditekankan kepada Allah. Di bawah ini merupakan contoh pujian dari Frank Manson North 1903 :

Di mana Salib menjadi jalan kehidupan yang penuh sesak,
Di mana suara tangis dari suku dan bangsa,
Di atas gaduh dari perselisihan
Kami dengar suara mu. Seorang anak manusia.
Di banyak tempat dalam keadaan sedih dan membutuhkan
Di baying-banyang ambang pintu gelap dengan ketakutan
Dari alur dimana tersembunyi iming-iming ketamakan
Kami menangkap visi dari mata mu.

Atau baris dalam pujian John Haynes Holme “ Suara Tuhan Apakah memanggil” :

Aku dengar orang-orang ku menangis di ranjang dan milik ku dan perkampungan
tidak ada lapangan atau pasar yang tenang, Tidak ada jalan kota yang bisu.
Saya lihat orang-orang ku terjatuh dalam kegelapan dan keputusasaan.
Siapa yang akan aku kirim untuk menghanncurkan belenggu yang mereka bawa?

Atau pujian John Oxenham 1913 “Di dalam Kristus Tidak Ada Timur atau Barat”, dengannya “ Menggandeng tangan,kemudian, Saudara yang beriman, apa yang mungkin bagi bangsamu. Siapa yang melayani Bapa ku sebagai seorang putera pasti dekat dengan ku.” Seperti inilah pujian yang menarik nafsu pergerakan ke dalam hidup di gereja, ibadahnya.

SOSIAL INJIL DAN KAUM BURUH

SOSIAL INJIL DAN KAUM BURUH
Social injil terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pada abad tersebut gerakan ini dikenal gerakan di kalangan orang Kristen Protestan. Gerakan ini muncul di Amerika akibat respon terhadap berbagai masalah sosial yang tumbuh di Amerika seiring dengan perkembangan industri perkotaan. Namun, faktor utama munculnya social gospel adalah bertumbuhnya industri.. Gerakan social gospel Amerika, dimulai pada akhir perang sosial, yang didapat dari gereja Protestant sampai awal perang dunia pertama. Kegiatan mereka ini berpusat pada rumah, yang disebut rumah singgah.Dalam peper ini akan coba dijelaskan mengenai apa hubungan antara gerakan sosial injil dengan kaum buruh.

Sosial Injil dan Kaum Buruh
Pada masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kebanyakan buruh berada pada kemalangan dalam menghadapi kenyataan penderitaan yang amat menyedihkan. Serikat-serikay kejuruan bagi kaum pekerja zaman dulu telah dihapuskan, tetapi tidak ada usaha untuk mengganti dengan upaya perllindungan lainnya. Hal tersebut menciptakan dampak yang negatif bagi para buruh masa itu. Dampak yang terlihat adalah para pekerja sering sekali mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi oleh para majikannya. Situasi masih diperburuk lagi oleh penghisapan penuh ketamakan, kajahatan, yang sudah sering dikecam oleh Gereja, tetapi dengan pelbagai cara yang licik masih tetap dijalankan juga oleh orang-orang yang rakus.
Seorang pendeta congregasional yang bernama Washington Gladden dalam bukunya Apllied Christianity volume 1886, mengatakan bahwa dampak dari kekristenan adalah peningkatan orang-orang yang mapan dan makmur. Namun, pada saat yang sama dia mengkritik perbedaan yang besar antara orang-orang yang mapan dan makmur dengan para pekerja. Sehingga yang terjadi malah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Menurut dia, orang-orang yang membutuhkan tenaga kerja, jangan menganggap para pekerja sebagai sebuah komoditas. Tetapi harus merasakan kemanusian, memperhatikan kesehatan para pekerja. Gladden sangat mendukung peran serta organisasi ketenagakerjaan.
Seorang tokoh beraliran pietisme yaitu Walter Reuschenbusch , pernah tinggal dengan orang-orang miskin selama sebelas tahun di kota New York di daerah Hell’s Kitchen dan sebagai pendeta di Gereja Second Baptist Church. Dia merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam gerakan Sosial Injil di Gereja. Teologi yang dimiliki berpusat kepada kerajaan Allah. Menurut Reuschenbusch, dengan adanya keserakahan, ketidakadilan, dan penindasan terhadap kaum buruh dapat menciptakan dosa. Dosa tersebut berasal dari diri sendiri. Reuschenbusch memberikan nasihat agar orang-orang tidak lagi melakukan penindasan dalam bentuk apapun kepada para pekerja. Dia juga mengatakan bahwa manusia mampu berbuat baik pada dirinya, karena dalam diri setiap manusia sudah terdapat kebaikan alimiah. Kebaikan alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia ini terlepas dari agama yang mereka anut. Manusia juga bukan hidup untuk dirinya sendiri namun hidup berelasi dengan orang lain
Ada upaya yang dilakukan oleh gereja-gereja untuk melakukan perlindungan terhadap kaum buruh. Dalam format gereja metodis gereja perlu berdiri.
 Untuk hak yang sama dan melengkapi keadilan untuk semua orang dalam kehidupan.
 Untuk prinsip pemufakatan di dalam perslisihan industri.
 Untuk perlindungan pekerja dari bahaya mesin, luka-luka, dan kematian.
 Untuk penghapusan kepada buruh anak.
 Untuk peraturan dari keadaan tenaga kerja wanita sebagai perlindungan mereka. Karena adanya penindasan.
 Untuk pengurangan jam kerja menjadi yang layak demi menciptakan kehidupan yang baik.
 Untuk melepaskan dalam tujuh hari kerja
 Untuk suatu upah hidup dalam industri.
 Untuk upah yang tinggi yang dapat diusahakan.
 Untuk pengakuan peraturan utama dan pikiran dari Kristus sebagai hukum masyarakat tertinggi.

Penutup

Gerakan Sosial Injil yang terjadi di dalam Gereja merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan pada kaum buruh. Pada masa itu masih banyak orang yang sulit untuk membrikan keadilan bagi kaum buruh. Para majikan biasanya menuntut produksi untuk menghasilkan kekayaan dan tanpa melihat kesehatan atau kesejahteraan kaum buruh.
Dalam hal ini, Gereja harus memberikan tindakan atas segala bentuk penindasan yang dialami kaum buruh. Gereja mengajarkan tentang cinta kasih terhadap orang-orang yang melakukan penindasan. Cinta kasih yang diberikan berasal dari inji-injil. Cinta kasih itulah yang dapat menciptakan keadilan dalam dir seseorang terhadap sesama.






















Daftar Pustaka

Chapman, Mark. 1993. Walter Rauschenbusch and The Coming Of God’s Kingdom, as essay in The Kindom Of God and Human Society. Edinburg: T&T Calrk.
Hardawiryana,R.1999. Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial Gereja Tahun 1891-1991., Jakarta: Departemen Dokumentasi Dan Penerangan KWI.
Wogaman, Philip. 1994. Christian Ethics A Historical Introduction,. London: SPCK.

GERAKAN SOCIAL GOSPEL

GERAKAN SOCIAL GOSPEL

Social Gospel (Injil Sosial) merupakan gerakan intelektual di kalangan orang Kristen Protestan yang populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Gerakan ini muncul di Amerika akibat respon terhadap berbagai masalah sosial yang tumbuh di Amerika seiring dengan perkembangan industri perkotaan. Dalam peper ini, kelompok mencoba menjelaskan pandangan social gospel untuk mewujudkan kerajaan Allah dibumi.

Social Gospel di Amerika
Gerakan social gospel Amerika, dimulai pada akhir perang sosial, yang didapat dari gereja Protestant sampai awal perang dunia pertama. Gerakan ini mendapat pengaruh dari gerakan anti perbudakan, hidup sederhana dan feminisme. Namun, faktor utama munculnya social gospel adalah bertumbuhnya industri. Revolusi Industri di Utara bertumbuh dengan cepat hal ini berbeda dengan di Selatan. Saat itu disebut juga Gilded Age, karena banyak orang menjadi semakin kaya karena kemakmuran. Namun, disisi lain timbul banyak masalah sosial, seperti buruh anak, dll. Sehingga yang terjadi malah yang miskin semakin miskin.
Social gospel diekspresikan dalam tiga gerakan yang dibedakan melalui strategi-strategi. Strategi yang pertama dikembangkan oleh orang-orang konservativ yang lebih menekankan pada orang-orang miskin dan para imigran. Kegiatan mereka ini berpusat pada rumah, yang disebut rumah singgah. Seperti yang dilakukan Jane Addams di Chicago. Strategi yang kedua lebih radical, mereka lebih menekankan pemahaman diri mereka sendiri tentang bagaimana pengembangan manusia dindetifikasikan dengan melihat sejarah tentang bagaimana Allah membantu manusia pada masa lampau.
Strategi yang ke tiga yang paling dominant, strategi yang lebih reformis. Karena dengan mendekati orang-orang yang makmur yang sama seperti mereka, mereka meminta orang-orang ini melihat atau memperhatikan orang-orang yang miskin.
Washington Gladden (1836-1918), dia seorang pendeta congregasional dan pemimpin social gospel. Dalam bukunya Apllied Christianity volume 1886, dia mengatakan bahwa dampak dari kekristenan adalah peningkatan orang-orang yang mapan dan makmur. Namun, pada saat yang sama dia mengkritik perbedaan yang besar antara orang-orang yang mapan dan makmur dengan para pekerja. Sehingga yang terjadi malah yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Menurut dia, orang-orang yang membutuhkan tenaga kerja, jangan menganggap para pekerja sebagai sebuah komoditas. Tetapi harus merasakan kemanusian, memperhatikan kesehatan para pekerja. Gladden sangat mendukung peran serta organisasi ketenagakerjaan.

Walter Reuschenbusch
Reuschenbusch (1861-1918), beraliran pietisme campuran Jerman-Amerika. Dia pernah tinggal dengan orang-orang miskin selama sebelas tahun di kota New York di daerah Hell’s Kitchen dan sebagai pendeta di Gereja Second Baptist Church. Inilah yang menjadi awal masuknya dia kedalam gerakan social gospel. Dia menjadi profesor sejarah gereja di Rochester Theological Seminart tahun 1897. Teologi Reuschenbusch sangat dipengaruhi oleh Ritschlian.
Reuschenbusch memusatkan teologinya pada Kerajaan Allah seperti yang ditekankan oleh para nabi di perjanjian lama, yaitu, hidup dan pengajaran Yesus. Kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang transenden dan abstrak. Kerajaan Allah tidak dilihat dari prespektif kedatangan Yesus yang kedua kali (porusia) namun Kerajaan Allah adalah hasil usaha manusia berupa sebuah komunitas yang berkembang di tengah-tengah orang percaya.
Reuschenbusch juga mengakui arti penting dosa dalam drama keselamatan. Dosa adalah sikap egois yang memberontak melawan Allah. Ada tiga bentuk dosa yaitu, menyenangkan diri sendiri, egois, dan mengesampingkan Tuhan. Maka, akan sulit untuk hidup berkomunitas yang didalamnya ada keadilan, kebenaran dan kasih. Manusia telah mengalami keselamatan sehingga kini fokusnya bukan pada diri sendiri lagi tetapi kepada Allah dan orang lain. Maka, setiap individu hanya dapat meninggalkan gaya hidup dan kebiasaan mereka yang berdosa apabila mereka dibebaskan dari tatanan ekonomi dan sosial yang membuat mereka berdosa
Ide mengenai pendamaian dan kerajaan Allah, dimulai dari Allah dan Kristus dilanjutkan dengan Allah dan manusia. Kematian Yesus dikayu salib memutuskan manusia dari kuasa dosa. Salib adalah fakta yang menandakan kasih karunia yang mengundang pertobatan dan kerendahan hati. Penebusan dipahami sebagai reonsiliasi penderitaan dan kasih yang menunjukan kemenangan Kristus atas dosa dan Kasih-Nya kepada Allah.
Ia menerjemahkan pemahaman-pemahaman mengenai kerajaan Allah kedalam hubungan sosial, struktur-struktur dan pemasalah-permasalahannya. Umat manusia bukan hidup untuk dirinya sendiri namun hidup berelasi dengan orang lain. Struktur dan relasi dapat menjadi salah satu kemungkinan atau halangan perwujudan tujuan-tujuan Allah yang penuh kasih.
Dia juga mengatakan bahwa manusia mampu berbuat baik pada dirinya, karena dalam diri setiap manusia sudah terdapat kebaikan alimiah. Kebaikan alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia ini terlepas dari agama yang mereka anut. Manusia juga bukan hidup untuk dirinya sendiri namun hidup berelasi dengan orang lain. Namun, struktur dan relasi dapat menjadi salah satu kemungkinan atau halangan perwujudan tujuan-tujuan Allah yang penuh kasih.
Hidup bisnis merupakan bagian yang tidak mungkin berubah dari kehidupan sosial. Dalam kritiknya tentang hidup bisnis, Rauschenbusch pada dasarnya menyamakan dirinya dengan sayap orang sosialis dari social gospel. Ia menulis bahwa “gerakan orang sosial modern yang pintar, bersama, dan berkesinambungan untuk membentuk masyarakat seturut hukum dan pembangunan sosial”. Dia juga menyutujui perubahan sosial melalui langkah-langkah yang konkrit, seperti pergerakan buruh

Sosial Injil Di Dalam Kehidupan Gereja
Pada awal dekade, pergerakan sosial injil dibawa dengan semangat individu yang bersifat ramalan dan organisasi reformasi. Pergerakan itu sering menjadi pengganggu bagi gereja dan gereja sering tidak dihargai. Dalam usaha gereja untuk mengumpulkan daya gerak di pergantian abad, pejabat menjadi bagian yang lebih di dalam gereja tersebut. Satu hal yang penting adalah masuknya pernyataan keyakinan sosial dalam konferensi umum gereja mengenai hal-hal keuskupan gereja metodis di tahun 1908. Pada tahun yang sama, dewan gereja pusat telah dibentuk dibawah kepemimpinan yang dipengaruhi oleh sosial injil. Dewan pemerintah pusat memiliki pernyataan iman sosial sendiri dan tidak mengadopsinya. Dalam format gereja metodis gereja perlu berdiri.
 Untuk hak yang sama dan melengkapi keadilan untuk semua orang dalam kehidupan.
 Untuk prinsip pemufakatan di dalam perslisihan industri.
 Untuk perlindungan pekerja dari bahaya mesin, luka-luka, dan kematian.
 Untuk penghapusan kepada buruh anak.
 Untuk peraturan dari keadaan tenaga kerja wanita sebagai perlindungan mereka. Karena adanya penindasan.
 Untuk pengurangan jam kerja menjadi yang layak demi menciptakan kehidupan yang baik.
 Untuk melepaskan dalam tujuh hari kerja
 Untuk suatu upah hidup dalam industri.
 Untuk upah yang tinggi yang dapat diusahakan.
 Untuk pengakuan peraturan utama dan pikiran dari Kristus sebagai hukum masyarakat tertinggi.
Dalam konferensi umum memanggil semua pendeta untuk mempelajari masalah ini. Pengajaran seperti Yesus di pahami dan digunakan mereka. Semua anggota dihimbau untuk mencari kerajaan Allah. Kehendak Allah diyakini akan dilaksanakan di bumi maupun di surga. Pernyataan kayakinan sosial setidaknya menghasilkan sesuatu yang dijadikan teladan bagi gereja. Pernyataan tersebut diperuntukkan untuk selamanya meliputi berbagai isu penting lainnya setelah pergerakan sosial injil yang telah memudar.

Sosial Gospel dalam Nyanyian
Di dalam gereja pada masa tersebut memang ada pengutamaan terhadap segala doktrin atau penekanan terhadap disatukannya tata ibadah dan pujian. Berbagai bahan tata ibadah, mencakup doa dan pernyataan iman dan pujian, dipengaruhi pergerakan itu. Ini mencakup pernyataan iman orang korea dengan persaudaraan pria dan Bapa ditekankan kepada Allah. Di bawah ini merupakan contoh pujian dari Frank Manson North 1903 :

Di mana Salib menjadi jalan kehidupan yang penuh sesak,
Di mana suara tangis dari suku dan bangsa,
Di atas gaduh dari perselisihan
Kami dengar suara mu. Seorang anak manusia.
Di banyak tempat dalam keadaan sedih dan membutuhkan
Di baying-banyang ambang pintu gelap dengan ketakutan
Dari alur dimana tersembunyi iming-iming ketamakan
Kami menangkap visi dari mata mu.

Atau baris dalam pujian John Haynes Holme “ Suara Tuhan Apakah memanggil” :

Aku dengar orang-orang ku menangis di ranjang dan milik ku dan perkampungan
tidak ada lapangan atau pasar yang tenang, Tidak ada jalan kota yang bisu.
Saya lihat orang-orang ku terjatuh dalam kegelapan dan keputusasaan.
Siapa yang akan aku kirim untuk menghanncurkan belenggu yang mereka bawa?

Atau pujian John Oxenham 1913 “Di dalam Kristus Tidak Ada Timur atau Barat”, dengannya “ Menggandeng tangan,kemudian, Saudara yang beriman, apa yang mungkin bagi bangsamu. Siapa yang melayani Bapa ku sebagai seorang putera pasti dekat dengan ku.” Seperti inilah pujian yang menarik nafsu pergerakan ke dalam hidup di gereja, ibadahnya.

Social Gospel Eropa
Social Gospel yang dimulai di Amerika, menyebarkan pengaruhnya hingga ke benua Eropa. Para tokoh yang berperan dalam gerakan ini adalah Leonhard Ragaz, Johan Christoph Blumhardt dan anaknya Christoph Friedrich Blumhardt.
Leonard Ragaz
Ragaz adalah seorang Profesor Teologi dan seorang pendeta di Gereja Reformed. Ia merupakan reformator pertama Swiss yang memberikan respon terhadap perang dunia sepanjang hidupnya. Ia menekankan sosialisme religious berdasar pada tema Kerajaan Allah. Menurutnya, perubahan sosial tidak hanya disebabkan oleh karena manipulasi institusional saja, melainkan juga menyangkut hati dan pembaharuan oleh Roh. Karenanya, perubahan social dan reformasi agama harus berjalan berdampingan.
Ia memimpikan dan menyetujui adanya organisasi Internasional yang menyatukan seperti PBB. Sosialisme merupakan dasar yang membawa perkembangan sejarah yang lebih maju dan melepaskan kapitalisme. Sosialisme muncul lewat perjuangan, bahkan revolusi. Namun bukan berarti perjuangan itu dilakukan dengan kekerasan, karena kekerasan akan menghancurkan karakter sosialisme yang esensial. Karena di dalam sosialisme, ada rasa kebersamaan yang kuat dan kesadaranakan kebebasan, kebebasan dalam persekutuan dan persekutuan dalam kebebasan.

Blumhardts
Blumhard merupakan seorang teolog akademik dan reformator sosial praktis, namun memiliki fondasi spiritualitas yang dalam. Pemikiran mereka berpusat pada ke-segera-an perwujudan Kehadiran Kerajaan Allah di bumi. Menurutnya, perjuangan melawan kejahatan tidak terjadi di surga, namun di dunia tempat kita tinggal sekarang ini. Kehidupan abadi merupakan manifestasi dalam dunia. Melalui wahyu Ilahi, pencerahan itu juga harus datang dalam dunia sosial dan politik. Karenanya Blumhart menjadi seorang pasifis yang sama sekali menolak perang. Karena perang baginya adalah suatu kekejian yang mirip dengan kehidupan binatang: yang kuat memangsa yang lemah. Lagipula, kemanusiaan hanya ada dalam dunia jika semua orang dapat memaknai perdamaian. Karenanya ia justru lebih setuju pada anarki. Kehidupan di dunia ini harus berkembang, dan karenanya setiap manusia harus terlibat di dalamnya, sehingga tidak perlu ada pemerintahan agar tidak ada penindasan. Penekanan yang ingin ditujukan Blumhardt adalah keadilan ekonomi. Ia menolak segala bentuk perbudakan dan bentuk-bentuk yang mengutamakan individual.

Penutup
Gerakan social gospel ini muncul sebagai bentuk protes kepada gereja agar jangan hanya mementikan hal-hal yang bersifat rohani, hanya antara individu-individu dengan Tuhan (vertikal) dan orang-orang yang kaya yang mementingkan kesejahteraan dirinya sendiri. Akibatnya mereka tidak peduli dengan sesama mereka yang ada disekitarnya. Yesus sendiri tidak hanya mengajarkan muridnya tentang hal-hal yang vertical saja namun juga horizontal dengan mengasihi sesama. Maka sebagai pengikut Kristus, kita juga harus mengikuti perkataan dan perbuataan Kristus untuk menghadirkan Kerajaan Allah ditengah-tengah dunia ini.


Daftar Pustaka
Auschenbusch, 1945. Walter R. A Theology For The Social Gospel. Nashville: Abingdon.
Chapman, Mark. 1993. Walter Rauschenbusch and The Coming Of God’s Kingdom, as essay in The Kindom Of God and Human Society. Edinburg: T&T Calrk.
Wogaman, Philip. 1994. Christian Ethics A Historical Introduction,. London: SPCK.
.

Kekerasan Anak Sekolah Minggu (ASM)

Kekerasan Anak Sekolah Minggu (ASM)
“Sikap Gereja Terhadap Kekerasan Guru Sekolah Minggu kepada Naradidik”

I. Pendahuluan
Perpanjangan dari gerakan pentakosta ada pada tahun 1901 di Kansas dan penyebarannya sangat cepat di seluruh tempat. Masyarakat semakin akrab dengan kekerasan terkadang tindakan kekerasan dianggap sebagai salah satu bentuk penyelesaian masalah.Kekerasan merupakan suatu tindakan yang telah terjadi dalam kehidupan manusia, bahkan tindakan ini telah terjadi dalam kehidupan bergereja. Tindakan kekerasan ini pun tidak hanya terjadi pada kalangan orang dewasa, akan tetapi kepada anak-anak juga. Kekerasan dilakukan dari anak yang masih bayi hingga pada orang lanjut usia. Tidak ada pengecualian atau pembatasan kepada atau terhadap siapa kekerasan ini dilakukan. Kekerasan tidak lagi memandang apakah makhluk tersebut layak untuk mendapatkan tindakan tersebut. Terkadang, anak-anak kecil yang belum mengerti apa itu kekerasan, menjadi korban dari tindakan kekerasan tersebut. Sebagai contoh, di suatu gereja protestan yang terletak di kawasan Senen, Jakarta pusat terdapat sejumlah anak didik sekolah minggu menjadi korban kekerasan dari Pembina sekolah minggu. Seperti yang diketahui seorang anak kecil selalu bertindak mengikuti keinginan hati mereka, tanpa memikirkan apa yang telah mereka lakukan menyenangkan orang lain, yang mereka ketahui hanyalah bahwa tindakan mereka tersebut menyenangkan mereka. Di gereja ini, setiap anak sekolah minggu melakukan kenakalan, sebagai contoh: tidak berdoa disaat berdoa, melakukan kegiatan pribadi selama sang Pembina menyampaikan Firman Tuhan, sang anak bermain saat mendedangkan pujian. Maka, samg anak akan dicubit, dipukul, dan dibentak. Layakkah mereka mendapatkan pengajaran tambahan mengenai kekerasan dari Pembina sekolah minggu mereka?, dan bagaimana sikap atau tindakan gereja terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan Pembina sekolah minggu terhadap naradidiknya?. Maka, melalui paper ini penulis akan mencoba membahasnya.

I. Isi

II.a. Definisi Kekerasan

Kekerasan adalah perihal keras, perbuatan seseorang atau sekolompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain, paksaan.
Kekerasan berarti yang mengandung tekanan, desakan yang keras. Kekerasan ini membawa kekuatan paksaan dan tekanan (Windhu, 1992;63). Poerwadarminta, mendefinisikan kekerasan sebagai “sifat atau hal yang keras; kekuatan, paksaan.” (Poerwadarminta, 1986’404). Kekerasan bukan kosakata asing bagi peradaban manusia. Sejak manusia diciptakan telah terjadi kekerasan, ini dapat dibaca dari kisah Kain dan Habil, sebagaimana tertulis dikitab suci.
Macam kekerasan bisa berupa tindakan kekerasan fisik atau kekerasan psikologi:
• Definisi kekerasan Fisik (WHO): tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, seksual dan psikogi. Tindakan itu antara lain berupa memukul, menendang, menampar, menikam, menembak, mendorong (paksa), menjepit.
• Definisi kekerasan psikologi (WHO): penggunaan kekuasaan secara sengaja termasuk memaksa secara fisik terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, mental, spiritual, moral dan pertumbuhan sosial. Tindakan kekerasan ini antara lain berupa kekerasan verbal, memarahi/penghinaan, pelecehan dan ancaman.



II.b. Hal-hal yang Terjadi pada Anak Korban Kekerasan

Anak-anak yang mengalami kekerasan bisa mengalami hal-hal sebagai
Berikut:
1. Anak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Kekerasan sebetulnya merupakan pernyataan atau wujud dari tekad membela kepentingan. Jadi, kalau kita dihadapkan atau hidup di tengah- tengah masyarakat atau keluarga yang makin hari makin keras memperlakukan anak, si anak yang kita besarkan ini mungkin bisa bertumbuh besar menjadi orang yang egois yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan akhirnya mempunyai sifat yang keras. Dia, misalnya, akan mengekspresikan kemarahannya dengan kekerasan. Hal ini sangat potensial membuat anak juga melakukan kekerasan dalam rumah tangganya kelak.
2. Kekerasan pada anak dapat menghancurkan anak secara rohani, emosional, dan sosial sebagaimana halnya dengan fisik. Anak yang mengalami kekerasan sering mengalami depresi, rasa takut serta perasaan bersalah. Mereka akan mengalami kesulitan untuk mempercayai orang lain dan merasa kurang percaya diri.


II.c. Tindakan Gereja Terhadap Kekerasan yang Terjadi pada ASM

Kasus kekerasan terhadap anak belakangan ini cukup marak terjadi, hal yang mencengangkan ialah bahwa kebanyakan kasus kekerasan justru dilakukan oleh orang terdekat anak itu sendiri. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan, mengingat bukan tidak mungkin hal itu dialami oleh anak didik sekolah minggu juga. Beberapa Pembina sekolah minggu yang mengaku percaya pada prinsip-prinsip kedisiplinan yang ada di Alkitab justru memiliki penafsiran dan penerapan Alkitab yang salah sehingga mereka melakukan kekerasan pada anak-anak, memukul dengan menggunakan saat anak tersebut bermain pada saat ibadah pelayanan anak. Kekerasan anak adalah berbagai tindakan yang dapat melukai seorang anak. Luka itu bisa disebabkan oleh emosi yang diperlihatkan Pembina sekolah minggu terhadap anak didik yang melakukan kesalahan atau kenakalan. Bisa juga karena pemahaman yang salah mengenai disiplin dan hukuman untuk anak. Kekerasan itu dapat terwujud secara emosional dan fisik. Seringkali, kekerasan terhadap anak dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri. Oleh karena itu, banyak kasus yang tidak terungkap karena anak merasa bahwa adalah hak Pembina sebagai guru atau orang yang lebih tua dari mereka untuk melakukan tindakan itu pada mereka. Mereka juga takut akan hukuman yang lebih berat lagi jika mereka membantah atau menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Yang seharusnya dilakukan gereja adalah, gereja perlu menekankan kepada anak bahwa kita boleh melindungi diri, tetapi dalam pengertian menjadi orang yang tegas bukan orang yang kasar. Dalam kelas sekolah minggu, sering-seringlah menekankan pelajaran-pelajaran mengenai kelembutan, kasih, disiplin, ketegasan Yesus. Untuk anak-anak yang berjiwa keras, dengan tegas dapat kita katakan dan ajarkan bahwa saat mereka melakukan hal yang negatif, seperti memukul temannya, itu berarti mereka sedang berdosa kepada Tuhan. Jika mereka memberikan sanggahan bahwa orang tuanya pun melakukan hal itu kepada dia, ajaklah dia dengan lemah lembut untuk mendoakan orang tuanya. Bagi anak-anak yang karena kekerasan pada dirinya menjadi orang yang kehilangan kepercayaan diri atau depresi berat, bimbinglah mereka dengan lemah lembut pula. Tunjukkan pada mereka bahwa Anda ada di pihak mereka dan siap mendukung. Berikanlah kepastian kepadanya bahwa mereka aman saat berada di dekat guru sekolah minggu. Pendekatan secara pribadi dan intensif sangat perlu bagi anak yang mengalami kasus ini. Mungkin kita tidak dapat mencampuri urusan keluarga anak sekolah minggu, tetapi kita dapat membantu mereka dengan memulihkan sakit fisik, mental, maupun rohani mereka. Yang dapat kita lakukan, antara lain sebagai beriku
a. Melakukan kunjungan ke rumah anak sekolah minggu. Dalam kunjungan, fokuskan kunjungan pada anak, bukan untuk menasihati atau bahkan menyalahkan orang tua mereka. Jika sangat sulit menemui anak di rumah, waktu-waktu setelah ibadah sekolah minggu selesai akan menjadi saat yang sangat tepat bagi Anda untuk melakukan pendekatan tersebut.
b. Dalam pertemuan pribadi Anda dengan anak, biarkan mereka mengungkapkan seluruh isi hati mereka. Biarkan mereka menangis atau mengungkapkan kemarahan mereka di hadapan Anda. Jadilah pendengar yang baik dan jangan menyela pembicaraannya.
c. Untuk anak kelas kecil, Anda dapat membelikan buku-buku cerita Alkitab bergambar. Lalu, ceritakan atau berikanlah buku-buku tersebut kepada mereka secara pribadi.

II. d . Tindakan yang Seharusnya dilakukan Seorang Pembina Sekolah Minggu

Komunikasi biasanya memang identik dengan verbal atau kata-kata. Namun pada zaman sekarang kita tidak cukup dengan komunikasi kata, melainkan komunikasi pikiran, komunikasi hati, komunikasi perbuatan.

1. Komunikasi kata.
Jangan menggunakan kata-kata konfrontasi yang kasar dan memancing amarah ataupun dengan ucapan siapa yang berkuasa. Apabila kita mencecar anak-anak dengan peluru kata-kata maka ada 2 kemungkinan yang terjadi: ia akan lari ke tempat persembunyiannya dan melampiaskan amarahnya atau kemungkinan kedua, ia akan balas menyerang saudara.

- Selesaikan dulu urusan saudara sebelum saudara menyelesaikan urusan dengan anak-anak SM saudara. Biasanya kita yang dalam keadaan sibuk, capek dalam pelayanan mudah sekali untuk melampiaskan emosi kepada anak-anak karena merasa anak-anak tidak berani menantang atau membalas kita. Keluarkanlah dulu balok di mata kita, barulah kita mengeluarkan serpihan kayu di mata anak-anak SM kita (Mat. 7:3-5).
- Setelah saudara mempersiapkan diri (berdoa terlebih dahulu), berbicaralah dengan anak SM saudara di tempat yang tepat dan waktu yang tepat (saya biasanya melakukannya ketika setelah belajar atau kerumahnya. Di remaja yang saya pernah alami atau sekali-sekali di tempat ini, saya sering menggunakan kesempatan bertemu di hari senggang untuk ngobrol, atau bisa juga saya ajak pergi makan dan di sanalah saya berbicara menanyakan perihal pergumulan di dalam dirinya). Jangan menegur mereka di tempat umum atau di depan teman-temannya karena hal tersebut hanya akan membuat dirinya malu. Ambillah waktu khusus maka secara tidak langsung saudara hendak mengatakan, “Kamu sangat berarti bagi saya.” Memberikan hikmat kepada anak-anak bukan dengan cara memukul anak-anak dengan kata-kata melainkan Amsal 1:8-9 berkata, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.” Seperti memberikan harta yang termahal baginya. Kita harus menghindarkan dari mencari tahu siapa yang benar atau siapa yang salah. Di dalam buku Masa Penuh Kesempatan yang ditulis oleh Paul David Tripp, dia mengemukakan tiga cara untuk menolong kita ketika kita menghadapi anak-anak (remaja) yang bersikap defensif:

a. Menjelaskan makna dari tindakan kita. Kita bisa katakan, “Jangan salah paham, om/tante tidak menuduhmu. Om/tante sangat mengasihimu dan karena kasih itu, om/tante ingin melakukan apa saja yang bisa om/tante lakukan untuk menolongmu. Kalau ada hal yang ingin kau sampaikan sama om/tante, kamu bisa tolong beritahukan dengan hormat kepada om/tante.”
b. Kita harus menolong mereka meneliti sikap defensif mereka sendiri. Menurut Tripp, anak-anak menderita kebutaan spiritual sehingga perlu untuk dibimbing melihat keadaan spiritual mereka sendiri. Kita dapat katakan, “Tahukah kamu ada banyak kegelisahan atau kekacauan di ruangan ini. Bukankah om/tante tidak membentakmu, menyakitimu, atau menuduhmu? Tetapi sepertinya kamu tidak suka dengan om/tante. Mengapa kamu marah atau tidak suka sama om/tante? Dapatkah kamu jelaskan kepada om/tante?”
c. Berusaha jujur dengan cara mengaku dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada anak-anak kita. Kadang tanpa sadar kita sudah melukai hati mereka dengan kata-kata kita yang kasar, membentak, atau mungkin memukul. Kita harus akui kesalahan kita kepada anak-anak kita dan tunjukkan juga pengakuan itu kepada Tuhan agar anak-anak dapat menyadari dosa mereka juga di hadapan Tuhan dan kita.

2. Komunikasi pikiran.
Bawa mereka di dalam pengenalan akan diri mereka sendiri. Ajukan pertanyaan yang membutuhkan deskripsi, penjelasan, dan pengungkapan diri. Jangan puas hanya dengan jawaban ya atau tidak saja. Anak-anak biasanya suka bercerita (mulai berkurang pada zaman ini), jadi manfaatkan kebiasaan mereka ini dengan mendengarkan keluhan mereka. Pancing mereka mengungkapkan segala gundah gulana mereka. Mengapa? Karena biasanya anak-anak yang “bermasalah” di SM memiliki masalah pula di rumah. Jadi dengan mengetahui isi pikiran mereka, maka kita kira-kira dapat mengira bagaimana kehidupan keluarga mereka di rumah, bagaimana perlakuan yang mereka dapatkan dari orangtua mereka. Anak-anak memang akan sulit sekali mengungkapkan pemikiran mereka karena pikiran mereka masih abstrak dan belum tersusun rapi, terlebih lagi mereka sudah “malas” berpikir keras kalau hal itu tidak menantang mereka (seperti permainan game yang mereka mainkan).
3. Komunikasi hati.
Apakah kita pernah mengajak anak-anak didik kita masuk ke dalam pembicaraan yang dalam? Misalnya membicarakan tentang Tuhan Yesus secara pribadi kepada mereka? Biasanya pengajaran di kelas sangat menyulitkan kita untuk menembus hati setiap anak karena pengajaran yang kita ajarkan bersifat umum dan bisa saja ditanggapi dengan berbeda-beda oleh setiap anak. Penting sekali kita kembali mengajarkan secara pribadi kepada setiap anak agar kita dapat lebih memperkenalkan kepada anak-anak mengenai Yesus.
4. Komunikasi perbuatan.
Tunjukkan kasih kita dengan perbuatan! Saya menyarankan kita untuk melakukan perkunjungan agar anak-anak dapat merasa lebih dekat dan diperhatikan (imbasnya nanti juga ke orangtua yang melihat keseriusan kita dalam melayani anak-anak mereka). Anak-anak mungkin tidak dapat mengekspresikan sukacita mereka ketika melihat kita datang mengunjungi mereka atau dalam tingkah laku kita yang menunjukkan kasih kepada mereka, namun percayalah, setiap gerak gerik kita akan diamati oleh anak-anak kita, sadar atau tidak sadar. Anak-anak adalah mesin foto copy yang paling canggih di seluruh dunia. Di dalam zaman di mana mereka sudah kehilangan figur rohani yang ideal, maka penting sekali kita menumbuhkembangkan kembali figur yang ideal di dalam diri kita, agar mereka tidak mencari figur di luar kekristenan. Ajarkan mereka untuk melakukan firman Tuhan seperti kita!


II. Penutup

Luther menekankan bahwa cara pendidikan anak-anak dan kaum muda hendaknyalah dengan cara sederhana, ramah, gembira dan bergurau (Lihat uraian Luther tentang Hukum Taurat II). Itu artinya menghindari segala bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik (memukul, menjewer dan sebagainya) dan kekerasan psikologis: mengancam, menakut-nakuti, menghina, merendahkan dan sebagainya).
"Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu:Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 18:10). Sebagai guru sekolah minggu, kita dapat memberikan nasihat-nasihat atau pertolongan kepada anak agar kekerasan yang terjadi pada dirinya tidak membawa dampak negatif yang dalam bagi kehidupannya. Gereja adalah tempat persekutuan orang beriman, merupakan kehidupan brsama yang berpusat pada Yesus Kristus, sebagai saluran untuk menyatakan kehendak Allah, merupakan lembaga dasar di mana hidup bersama sebagai anak-anak Allah diwujudkan. Gereja juga seharusnya sebagai tempat untuk mendidik, membimbing seluruh anggota jemaat termasuk anak sekolah minggu untuk menjadi orang yang dewasa dalam iman, pengharapan dan kasih, yang dimulai dari usia skolah minggu hingga usia dewasa, yang dilakukan secara terus menerus tidak putus-putusnya. Dasar iman Kristen adalah kasih, ini adalah kebenaran. Dan inti hukum taurat adalah kasih dalam dimensi vertical dan horizontal (Matius 22: 37-39). Anak-anak Allah dipanggil untuk menghayati kebenaran itu.




DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesi, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988). Hlm.425

Sihombing Justin, Kekerasan Terhadap Masyarakat Marginal, Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2005

Perkantas, terjemahan, Langkah-langkah Pertumbuhan Iman, Jakarta: Perkantas, 1997

unionism.wordpress.com/2008/09/05/kekerasan-ditempat-kerja/ - 32k -, diakses pada Selasa 19 mei 2009 pukul 13:23.

www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/288/ - 33k, diakses pada Selasa 19 mei 2009 pukul 13:29.

hkbps.com/?p=138 - 42k, diakses pada Selasa 19 mei 2009 pukul 14.02

Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan

Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan
1. Sumbangan Luther

Luther banyak menyumbangkan pikiran dan ilmunya dalam pendidikan agama Kristen pada zaman reformasi. Luther adalah orang pertama yang menentang adanya surat jual-beli penghapusan siksa oleh gereja katolik Roma. Luther mempunyai tiga keputusan dalam pemikirannya bahwa mendukung pemberontakan yang dilakukan para Tani, namun itu tidak lama karena para tani tersebut menjadi anarkis, kemudian dia menyetujui adanya perkawinan bagi pelayan Firman gereja Kristen Protestan dan yang ketiga dia membuat liturgy baru yaitu missa jerman yang berisikan amanat injil,nyanyian rohani bagi jemaat dan perjamuan kudus dengan roti dan anggur yang boleh diikuti oleh siapa saja( yang sudah dipersiapkan dahulu).
Dalam dasar teologinya Luther percaya akan setiap manusia mempunyai dosa asal, manusia dapat memperoleh pembenaran iman, semau orang/ manusia dapat menjadi imamat orang percaya/ panggilan, dan dasar dari pendidikan agama Kristen adalah Alkitab/ firman Allah. Dasar sosiologi Luther yakin pendidikan akan berjalan tidak lepas dari peran orang tua dan penguasa sipil. Menurutnya pendidikan sangat penting terutama kaum muda karena akan menjadi penerus.

2. Sumbangan Calvin
Calvin membuat peraturan-peraturan bagi warga Jenewa. Calvin mempunyai dasar teologi yaitu Allah sebagai dasar kedaulatan, sumber dari dasar tersebut adalah Alkitab, ajaran bahwa manusia serupa dengan Allah, ajaran tentang sakramen pada gereja, dan hubungan akan gereja dan Negara. Pendidikan agama Kristen menurut Calvin ialah menanamkan akal-akal orang percaya/ yang terpilih dengan firman Allah dan peran Roh kudus beserta pengalaman belajar. Tujuannya supaya manusia menyadasi bahwa mereka adalah kepunyaan Allah. Dan pengajar terutama adalah Allah dan muridnya adalah mereka yang belajar katekisasi.

Ignatius Loyola, Pendidik Jalan Kehidupan Suci
Tujuan Loyola daam pendidikan agama Kristen meluruskan pada umat Kristen bahwa kehendak Allahlah yang harus didengar bukan paus. Loyola juga meilirkan wadah atau tempat dalam pendidikan yaitu SMP/SMA dan juga perguruan tinggi. Kurikulumnya adalah mengajak semua pelajar/ naradidik menyampaikan gagasannya dalam bahasa latin. Menurutnya disipin sangat penting dalam pendidikan agama Kristen dan gereja.