Rabu, 11 November 2009

Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan

Pendidikan Agama Kristen Pada Zaman Reformasi Protestan
1. Sumbangan Luther

Luther banyak menyumbangkan pikiran dan ilmunya dalam pendidikan agama Kristen pada zaman reformasi. Luther adalah orang pertama yang menentang adanya surat jual-beli penghapusan siksa oleh gereja katolik Roma. Luther mempunyai tiga keputusan dalam pemikirannya bahwa mendukung pemberontakan yang dilakukan para Tani, namun itu tidak lama karena para tani tersebut menjadi anarkis, kemudian dia menyetujui adanya perkawinan bagi pelayan Firman gereja Kristen Protestan dan yang ketiga dia membuat liturgy baru yaitu missa jerman yang berisikan amanat injil,nyanyian rohani bagi jemaat dan perjamuan kudus dengan roti dan anggur yang boleh diikuti oleh siapa saja( yang sudah dipersiapkan dahulu).
Dalam dasar teologinya Luther percaya akan setiap manusia mempunyai dosa asal, manusia dapat memperoleh pembenaran iman, semau orang/ manusia dapat menjadi imamat orang percaya/ panggilan, dan dasar dari pendidikan agama Kristen adalah Alkitab/ firman Allah. Dasar sosiologi Luther yakin pendidikan akan berjalan tidak lepas dari peran orang tua dan penguasa sipil. Menurutnya pendidikan sangat penting terutama kaum muda karena akan menjadi penerus.

2. Sumbangan Calvin
Calvin membuat peraturan-peraturan bagi warga Jenewa. Calvin mempunyai dasar teologi yaitu Allah sebagai dasar kedaulatan, sumber dari dasar tersebut adalah Alkitab, ajaran bahwa manusia serupa dengan Allah, ajaran tentang sakramen pada gereja, dan hubungan akan gereja dan Negara. Pendidikan agama Kristen menurut Calvin ialah menanamkan akal-akal orang percaya/ yang terpilih dengan firman Allah dan peran Roh kudus beserta pengalaman belajar. Tujuannya supaya manusia menyadasi bahwa mereka adalah kepunyaan Allah. Dan pengajar terutama adalah Allah dan muridnya adalah mereka yang belajar katekisasi.

Ignatius Loyola, Pendidik Jalan Kehidupan Suci
Tujuan Loyola daam pendidikan agama Kristen meluruskan pada umat Kristen bahwa kehendak Allahlah yang harus didengar bukan paus. Loyola juga meilirkan wadah atau tempat dalam pendidikan yaitu SMP/SMA dan juga perguruan tinggi. Kurikulumnya adalah mengajak semua pelajar/ naradidik menyampaikan gagasannya dalam bahasa latin. Menurutnya disipin sangat penting dalam pendidikan agama Kristen dan gereja.


Pendidikan Kristiani Menurut Luther

Pendidikan Kristiani Menurut Luther
I. Pendahuluan
Luther adalah seorang anak dari Margaretha dan Hans Luther. Awalnya ayah Luther hanyalah pekerja di tambang tembaga di Jerman, namun akhirnya tambang tersebut menjadi milik pribadinya. Ia lahir pada 10 November 1483, dan ia memiliki nama baptis yaitu Martinus. Dengan keuntungan yang diperoleh dari tambang tersebut Luther dapat bersekolah di kota Mansfield. Luther menyadari bahwa pengajaran guru pada saat itu sangat kasar dan keahlian guru-guru tersebut pun kurang memadai. Luther mulai belajar tentang membaca, menulis dan menghafal Doa Bapa kami. Pendidikan Luther berlanjut hingga tahun 1505 saat ia mendapat gelar Magister Artes dari Universitas Erfurt.
Ia semakin menemukan apa yang ia cari selama ini tentang Allah. Ia berkhotbah tidak hanya pada hari minggu tetapi juga pada hari-hari lainnya. Ia juga mulai semakin kritis akan ajaran yang terjadi pada zaman tersebut dalam gereja. Ia mengeluarkan 95 dalil dan dalil-dalil itu ia sampaikan kepada Paus. Ia membuat tiga pokok keputusan yang sangat penting baginya pada tahun 1525, yaitu ia memihak golongan atas melawan kepada kaum tani, ia menyatakan bahwa diperbolehkannya seorang pelayan firman menikah dan ia juga menyusun liturgi baru.
II. Tujuan
Dalam pendidikan Kristiani, Luther mempunyai tujuan yaitu mencapai keberhasilan bagi para naradidik. Maksud dari keberhasilan tersebut ialah agar naradidik atau murid menyadari dan menemukan hasil melalui diri mereka dengan pendidikan Kristiani. Dalam tujuan pendidikan Kristiani tersebut Luther juga menginginkan adanya kesadaran naradidik dan orang dewasa untuk keberadaan mereka. Keberadaan ini bukan keberadaan yang ada didepan mata kita tetapi keberadaan yang menyadarkan bahwa mereka adalah mahluk yang berdosa.
Dalam mencapai tujuan tersebut ia harus mempunyai pedoman yakni, dasa titah dan ketekhismus. Tujuan ini mungkin akan tercapai dengan baik jika usaha dari pendidikan Kristiani haruslah mengetahui atas pengertian firman Allah yang berkonteks dari agama.
III. Isi dan Kurikulum
Kurikulum yang Luther buat seperti pada pokok-pokok lain yang terjadi tidak seragam. Ada empat pemahaman Luther dalam membuat kurikulum. Dalam pemahaman yang pertama, gagasan yang sudah diutarakan dan dibahas kembali namun dengan masalah lain.
Kurikulum yang Luther buat dan teratur ialah katekhismus dan katekhismus tersebut menjadi hal yang utama baginya. Dalam katekhismus tersebut terdapat ajaran Doa Bapa kami, pengakuan iman orang percaya beserta artinya dan kesepuluh hukum Taurat. Pandangan Luther yang ketiga, dalam ruang lingkupnya ada sepintas tentang karyanya. Musik, luther menegaskan bahwa musik sangat penting dalam kurikulum pendidikan Kristiani. Selain itu, sejarah yang juga tak kalah penting menurut Luther. Dalam sejarah dalam kita lihat kesaksian akan pemeliharaan Allah sepanjang abad kepada manusia. Dengan mengenal akan sejarah kita dapat paham dan melakukan tindakan ketika kita diperhadapkan dengan pengambilan keputusan. Ilmu hitung dan olahraga juga diikut sertakan dalam kurikulum pendidikan menurut Luther.
IV. Naradidik
Walaupun orang tua dan guru berperan sebagai pengajar, namun tidak dapat disangkal bahwa orang tua dan guru juga memerlukan pengetahuan. Pengetahuan bagi mereka tidak sesaat tetapi seumur hidup. Karena sebagai seorang pengajar guru dan orang tua harus tahu banyak hal agar naradidik dapat memahami setiap pengajaran yang disampaikan. Luther tidak membedakan kaum pria dan wanita dalam pendidikan Kristiani, hanya waktu saja yang sedikit ia bedakan.
Ia sangat mengharapkan pendidikan terjadi bukan hanya pada orang tua, pengajar, kaum muda dan warga dewasa saja, yaitu para imam, biarawan dan awan yang sedang belajar berkotbah.
V. Pengajar
Luther yakin dan percaya bahwa pengajar utama atau yang terpokok adalah Allah. Allah mengajarnya, Allah mengajar melalui manusia. Karena menurutnya, Allah telah mendidiknya sebagaimana seorang ayah kepada anaknya. Pengajar yang kedua menurutnya yakni orang tua. Karena sesuai dengan firman yang Tuhan katakan dalam suratnya di Efesus 6:4b “Didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”. Tuhan meminta agar orang tua berperan dalam pendidikan anak terutama dalam iman Kristen.
Tidak dapat dipungkiri orang tua tidaklah dapat sepenuhnya memenuhi tanggungjawab akan pendidikan anak. Mereka mempunyai keterbatasan dalam pengetahuannya, maka Luther meyakinkan adanya seorang guru dalam pendididikan agama Kristen pada anak.
VI. Lingkungan Pembelajaran
Lingkungan pembelajaran dalam kurikulum Luther menurut penulis adalah dalam ruangan kelas. Karena Luther mengajukan dan menciptakan adanya ruang kelas bagi proses belajar mengajar. Dan selain dari itu yang penulis dapat pahami adalah dengan adanya perpustakaan.
VII. Evaluasi
Pengajaran yang Luther berikan lebih sempurna ketimbang dengan pengajaran-pengajaran yang sezaman dengannya. Luther sangat mengutamakan musik dalam pencapai pengajarannya bagi naradidik.
VIII. Penutup
Kesimpulan dan Refleksi Teologis
Luther sangat ingin meyakinkan bahwa pendidikan Kristiani sangat penting bagi semua orang. Bukan pada kaum muda, kaum elite, orang tua tetapi juga kepada mereka yang belajar khotbah, biara dan imam. Pengajar utama bagi Luther adalah Allah dan kita juga yakin bahwa Allah adalah dasar dan awal dari segalanya dalam pendidikan Kristiani.

Daftar Pustaka

Boehlke, R, Robert. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1991.

End Den Van. Harta dalam Bejana Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1990.

Berkhof , H, dan Enklaar, I, H. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2002



Jean-Jacques Rousseau “Pelopor Ilmu Jiwa Pendidikan”

Jean-Jacques Rousseau “Pelopor Ilmu Jiwa Pendidikan”
Dalam bukunya Emile pada judul “Pengakuan Iman seorang imam savoi”, Rousseau tentang agama bahwa seharusnya teori pendidikan adalah sebagai pedoman kepada anak didiknya ialah sifat, minat dan kebutuhan. Menurutnya bahwa manusia seharusnya mengikuti apa yang jadi kehendak oleh Yesus kepada orang Kristen, karena Yesus adalah guru yang mengajarkan serta mengamalkan moralitas yang tidak terbatas. Namun, kebanyakan dogma dalam gereja tidak melakukan tugas atau kehendak yang Yesus ajarkan. Ruang lingkup studi dalam anak menurut Rousseau ada 4 golongan atau tingkatdalam umur, yaitu; 0 sampai dengan 4 tahun (balita): menurutnya anak bayi atau balita mempunyai kebebasan untuk bergerak atau menggerakkan anggota badannya, berhak disusui oleh ibunya, anak balita berhak mendapatkan atau menerima sokongan bendawi namun juga tidak lepas peran dari seorang ayah dan anak balita berhak memberikan pendidikan terlebih dari seorang ayah. Pada umur atau golongan ini peran orang tua memang masih sangat penting bagi anak.
Golongan atau tingkat yang kedua, masa kanak-kanak (umur 5 sampai dengan 11 tahun): pada masa ini anak sering disamakan denagn irama alam, mereka sedang menikmati waktu peka tertawa, bermain, memeriksa dunia sekitarnya. Mereka juga menguji kekuatan dan kemampuan yang semakin bertambah dalam dirinya dan hidup bebas dari hambatan atau banyaknya hambatan yang didirikan secara salah oleh orang dewasa. Umur 12 samapi dengan 14 tahun adalah golongan ketiga dan masa ini ini disebut masa pra-puber. Pada masa ini anak sangat focus dengan kegiatan yang menggunakan akal. Dalam pengajaran pada golongan ini adalah banyak pengalaman yang menambah rasa penasarannya akan sesuatu dan menjadikan pengalaman sebagai pelajaran baginya.
Pada golongan yang keempat, ini adalah masa puber atau umur 15 samapi dengan 20 tahun. Tingkat pendidikan anak dalam masa ini semakin dewasa atau lebih sejati. Golongan ini lebih menekankan rasa keingintahuan dalam golongan pra-puber menjadi semakin kuat dengan pengalaman yang lebih tentang pendidikan dengan perasaan yang positif. Pada masa ini pendidikanagama dan seks lebih meluas.
Asas-asas pendidikan secara umum menurut Rousseau ialah perlunya pendidikan, karena ia setuju dengan dalil Comenius bahwa manusia tidak dicapai atau diperoleh sebagai hasil kelahiran saja melainkan juga oleh pendidikan yang berdasar pada alam, manusia dan benda-benda. Dan tujuan umum dalam pendidikannya adalah mengembangkan semua bakat naradidik agar mereka diperlengkapi hidup yang merdeka atau bebas dari prakarsa orang lain. Guru yang berperan dalam pendidikan bagi naradidik menurut Rousseau yakni, alam namun dengan peran serta guru dan orangtua dan pelajarnya ialah anak laki-laki dan perempuan dan bahkan ia lebih memfokuskan pendidikan pada perempuan karena akan menjadi seorang istri dan ibu. Kurikulum yang digunakan Rousseau yaitu, bersifat kontekstual sesuai dengan golongan yang ada. Asas-asas dari pendidikan khusus Rousseau adalah berporos pada teologi dan ilmu jiwa.

Yohanes Amos Comenius (Komensky)

Yohanes Amos Comenius (Komensky)
Bapak pendidikan Modern
Awalnya pendidikan atau pelayanan pendidikan Kristen hanya pada pelayanan gerejawi saja. Yohanes Amos Comenius adalah tokoh yang membuat perubahan mencolok tentang pandangan orang terhadap pelayanan dan pelaksanaan pendidikan. sumbangan Comenius sangat berbobot sehingga ia menerima gelar kehormatan ”Bapak Pedidikan Modern”.
Yohanes berpendapat bahwa pendidikan adalah termasuk juga pendiikan agama Kristen. Menurutnya teologi adalah dasar utama yang menyoroti teori dan praktek pendidikan, pengalaman pribadi adalah dasr kedua yang melandasi tentang pendidikan dan gaya berpikir secara analogis adalah dasar yang ketiga. Dasar teologi Comenius lebih dekat dengan loyola karena ia tidak menjelaskan iman Kristen secara sistemati. Ia menyadari bahwa kesulitan dalam pendidikan Kristen karena keinginan teolog untuk menjelaskan iman Kristen dengan sempurna dan cenderung bersandar pada kekuasaan negara.
Pemikiran inilah yang menyebabkan Comenius beranggapan bahwa ajaran teologi dan tatanan gereja membutuhkan pembangunan yang mendamaikan iman dan pandangan terhadap teologi menjadi satu dengan pikiran akan pendidikan dan cara pelaksanaannya dalam ruang sekolah. Comenius mempercayai akan kedaulatan Allah. Maksudnya ia percaya bahwa pendidikan termasuk ke dalam kehendak Allah bagi manusia. Bagi Comenius ialah jati diri manusia sebagai ”kemuliaan Allah” dalam (1 korintus 11:7).
Comenius menyoroti manusia sebagai ajaran teologi kedua tentang pendidikan karena manusia adalah mahluk rasional., tuan atas segala mahluk hidup namun tetap Allahlah yang berkuasa, mencerminkan sifat Allah dan manusia dapat menjadi pendidik yang benar seturut kehendaknya.
Tujuan pendidikan Comenius dalam pendidikan umum atau pendidikan Agama Kristen ialah melibatkan orang dalam upaya mencapai 3 prestasi yaitu; pengetahuan / pengertian, kebajikandan kesalehan. Tujuan umum dan kurikulernya tidak berporos pada sejumlah pokok pengetahuan iman yang perlu dihapal oleh anak didik, ia lebih berpedoman pada hidup secara Kristen.
Lingkungan luas pendidikan bagi Comenius ialah dimulai dari janin dalam rahim seorang ibu sampai kepada kematiaan atau dikuburnya seseorang, ialah tempat yang dapat menjadi sarana pendidikan. Comenius sangat memperhatikan pendidikan maka ia berpikir bahwa Allah adalah pengajar utama dan dilanjutkan oleh orang tua, guru, dan masyarakat termasuk sekolah dan persekutuan gereja. Sedangkan pelajar baginya ialah mereka yang termasuk dalam tujuh sekolah yaitu sejak kelahiran, bayi, kanak-kanak, remaja, pemuda, orang dewasa dan lanjut usia. Namun ia lehib berfokus pada kaum muda. Kurikulum yang dibuat olehnya ada lima pokok yaitu, kesalehan, hormat, pengetahuan dan sesuatu yang dibuat serta ucapan bagi anak didik.

Pengakuan Imanku

Pengakuan Imanku
Pendidikan dimulai dengan kesadaran setiap individu dengan partisipasi kesadaran social bangsa atau ras. Proses ini terjadi tanpa sadar, dan terus-menerus membentuk suatu kekuatan individu, memenuhi kesadarannya, membentuk kebiasaannya, encoba ide-ide dengan membangun perasaan dan emosinya. Setelah sadar pendidikan secara individu dating berangsur-angsur untuk memberi intelektual dan akal moral yang mempunyai kesuksesan bersama. Proses pendidikan ada dua macam; psikologi dan sosiologi. Psikologi adalah dasarnya atau awal. Individu adalah siapa yang menjadi pendidik akni individu sosialdan social itu ialah perpaduan alami individu-individu.
Sekolah adalah lembaga social yang utama. Pendidikan adalah proses kehidupan dan bukan hanya sebuah persiapan untuk kehidupan yang akan datang. Pendidikan adalah proses social, sekolah ialah membentuk komunitas hidup dalam semua perantara pendidikan sebagai pusat membawa anak-anak agar lebih efektif dalam member sumber warisan ras atau suku. Sekolah harus memberi gambaran yang nyata dan penting untuk anak-anak sebagai hidup yang mempengaruhi dalam rumah, lingkungan dan tempat bermain.
Dasar utama pendidikan adalah kekuatan anak-anak atas pekerjaan lama yang sama membangun garis sebagai yang membawa sivilisasi apakah ini. Salah satu hal atau kesulitan yang paling utama dalam mengajar ilmu dimasa sekarang adalah bahwa materi hadir dalam bentuk yang benar-benar objektif atau diperlakukan sebagai jenis pengalaman tertentu yang dimana anak-anak dapat menambahkan apa yang telah ada. Dalam gambarnya atau nyatanya kita banyak kehilangan nilai literature dan pelajaran bahasa karena pengeluaran kita pada elemen-elemen social. Pendidikan seharunya menjadi sebuah pengalaman yang terus dibangun sehingga bisa mencapai tujuan yang diinginkan.
Sisi aktif yang mendahului pasif dalam perkembangan anak ialah ekspresi yang menjadi pengaruh kesadaran, perkembangan otot yang mendahului sensor, gerakan-gerakan yang menjadi sensasi kesadaran dan kesadaran yang menjadi esensial motor dan impuls, ini semua cenderung pada pembangungan diaksi mereka. Sebagai alat untuk penghematan, maka gambaran diri mereka adalah menjadi masa yang tidak berarti dan dipaksa mengubah ide yang tidak ada. Emosi adalah reflek dari aksi.
Pendidikan adalah metode fundamental yang memajukan social dan membentuknya. Ada dua keinginan dalam mencapai kemajuan social dan sekolah yaitu; individualistic dan sosialistik. Individualistik, karena menyadari formasi karakter yang pasti sebagai dasar alsi untuk kehidupan yang lebih baik. Sedangkan sosialistik, karena menyadari yang karakter yang baik tersebut tidak dibentuk hanya dengan perintah atau ajaran atau aturan individu saja.

Pendidikan dalam waktu

Pendidikan dalam waktu
Tiga asumsi dan perhtian dalam pendidik selama waktu
Pendidikan adalah seperti manusia kuno yang berhati-hati. Ada tiga dimensi atau poin pada perhatian yang dapat dilihat dalam ‘leading out’: poin tersebut dari mana, proses sekarang ini dan yang akan datang terhadap penyelesaian the leading out. Dalam hal ini dijelaskan adanya pendidikan yang sudah siap yaitu kesadaran atau tidak ada dimensi.
Dimensi yang siap ini bersifat menyatakan perasaan lain apakah pelajar siap untuk tahu atau apakah pendidik tahu dan pelajar mempunyai inti kapasitas pada kesadaran yang tepat. Dimensi yang kedua, proses yang sekarang ini dicapai, tidak menegaskan pada yang siap itu, tetapi apa yang ditemukan oleh pelajar sebagai sesuatu yang dapat dipertemukan untuk mereka dari melebihi batas-batas sekarang ini. Dalam dimensi ini pengetahuan lebih dijumpai dan ditemukan dalam pengalaman daripada dibangkitkan atau dibentuk dari seseorang yang siap mengetahui maksud itu.
Dimensi ketiga, belum selesai, yang adalah poin terhadap memimpin keluar yang menyelesaikan. Untuk memimpin keluar adalah dengan kegiatan langsung terhadap yang akan datang, terhadap yang diluar garis horizon satu perbatasan yang sekarang ini dan yang belum tercapai. Yang menjadi penting dalam asumsi dari yang akan datang adalah yang lewat, dalam konteks ini aktifitas pendidikan, menemukan modal peradaban adalah tipenya organisasi antara pengetahuan tradisi dan disiplin pelajar. Dan asumsi pada sekarang ini adalah ekspresi dari dimensi aktifitas pendidikan. Asumsi yang akan datang adalah dimensi yang belum ada atau selesai. Asumsi ini, tidak hanya untuk pelajar tetapi juga pendidik. Dan pandangan ini lebih menekankan yang akan datang bagi pelajar dan pendidik. Namun, aktifitas pendidikan dimensi yang akan datang ialah memilih total dengan konsern untuk memelihara dan dapat orang antara social sekarang, berpegang lebih meluluhkan dari pendidikannya.
Banyak tokoh-tokoh sejarah yang mempunyai pemikiran dalam pendidikan, dari plato sampai pada abad ke 18 dan selanjutnya mereka mempunyai sumbangan pemikiran dalam pendidikan yang masih diterapkan sampai sekarang ini.

Johann Heindrich Pestalozzi, Pendiri sekolah Dasar Modern

Johann Heindrich Pestalozzi, Pendiri sekolah Dasar Modern
Johann Heindrich Pestalozzi, dikenal dengan nama Pestalozzi hidup dalam kemiskinan yang memprihatinkan. Pestalozzi,mengalami banyak kegagalan dari menjadi pendeta, pengacara dan petani hingga dalam cita-citanya mewujudkan keadaan buruk rakyat miskin. Ada lima pokok utama yang menjadi pandangan teologis, yaitu; kepercayaan kepada AllahBapa, alam sebagai pedoman, Yesus sebagai juruslamat dunia, manusia, jati dirinya dan tugasnya, dan pengalaman beriman secara pribadi.
Meskipun pada zamannya ilmu jiwa dipisahkan, ia tetap melakukan percobaan sederhana pada kelakuan anak-anak. Dalam dasar ilmu jiwa, Pestalozzi membagi tiga tema atau pokok, seperti; sumber dasar ilmu jiwa, asas-asas belajar-mengajar dan pertumbuhan iman. Menurutnya untuk memahami setiap perkembangan anak haruslah dengan penelitian atau menyelidiki bukan hanya sekadar mempelajarinya. Banyak metode yang dibuat oleh Pestalozzi untuk mencapai asas-asas belajar-mengajar. Seorang guru baiklah membagi bahan yang diajarkan sampai pada tahap sulit. Naradidikpun harus banyak diberikan tugas agar pendidikannya tidak membelok. Naradidik juga diharapkan belajar dengan menggunakan pancaindra. Namun, pengalaman adalah pendidikan yang paling penting bagi naradidik. Seorang guru sebaiknya memberikan pengetahuan yang sifatnya sama atau saling berhubungan. Ada keuntungan dalam diri naradidik pada asas tersebut, yakni; naradidik lebih mudah untuk menangkap hubungan yang berlaku diantara beberapa objek atau gagasan tertentu karena pengetahuan tersebut mudah diingat, melihat persamaan antara gagasan yang berbeda akan turut mendorong anak menjauhkan diri pandangan dogmatis atau berat sebelah.
Menurutnya pendidikan adalah usaha untuk mengubah kehidupan anak-anak miskin, yang harus belajar menulis, membaca dan berhitung, anak harus dapat mandiri bukan hanya berladang dan bertani dan menurutnya pengetahuan bukan dari akal dan tangan tetapi juga dengan hati sang anak. Tujuan pendidikan sendiri menurutnya ialah ada dua, umum dan kejuruan. Dalam tujuan umum, Pestalizzo mengarahkan seseorang yang bijaksana dan bajik dalam kehidupannya, manusiawi dalam semua hubungan dengan sesamanya manusia, dan seorang yang beriman harus bergantung pada Allah. Sedangkan pada tujuannya yang kedua atau kejuruan, Pestalizzo ingin memperlengkapi naradidik untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi perannya dalam masyarakat. Lingkungan yang dipakai oleh Pestalizzo yaitu, rumah tangga (orang tua), rumah dermawan (bagi mereka yang miskin) dan sekolah dasar bagi rakyat karena menurutnya dua lingkungan diatas tidaklah memadai.
Pengajar dalam pendidikan yang utama ialah sang ibu dan guru yang mengajar disekolah. Namun, selain ibu dan guru, anak itu sendiri dan pengalaman hidup yang diperoleh. Jika ada pengajar pasti ada pelajar atau naradidik, baginya pelajar adalah semua anak dalam setiap kalangan, anak perempuan (untuk sekolah keibuan) dan calon guru yang akan menjadi pengajar bagi naradidik. Ada tiga macam kurikulum dalam pendidikan yang dibuat oleh Pestalizzo, yaitu pada akal, tubuh dan hati. Metodeloginya adalah yang berasal dari pengalaman dengan benda-benda nyata lebih dari pengalaman dengan dunia dan gagasan yang berasal dari buku.